Cerita Korban Selamat Kecelakaan Bus di Sumedang: "Rem Blong, Rem Blong, Lalu Tercium Bau Karet Hangus"

  Jumat, 12 Maret 2021   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Tim Basarnas saat mengevakuasi korban bus Sri Padma Kencana yang terjun ke dalam jurang sedalam 20 meter di kawasan Wado Sumedang Jawa Barat.

"Saat oleng itu ada yang teriak, rem blong, rem blong, katanya. Terus bau karet ke bakar!" 

SUBANG, AYOSURABAYA.COM -- Kecelakaan maut bus Sri Padma Kencana yang terjun ke dalam jurang sedalam 20 meter di kawasan Wado Sumedang Jawa Barat menyebabkan 29 dari 66 penumpangnya tewas. Sisanya mengalami luka berat dan ringan.

Seorang korban selamat, Mimin Mintarsih (52), menceritakan detik-detik sebelum bus yang ditumpanginya masuk jurang.

Ia mengaku mengetahui betul kecelakaan itu terjadi, karena sebelum kejadian duduk di jok kedua belakang pengemudi bus bersama kedua anaknya.

Bus sempat oleng bahkan sempat juga tercium bau hangit. Sebagian penumpang menyarankan kepada pengemudi bus untuk cek kondisi kendaraan. 

AYO BACA : Pertanda Hari Kiamat, Hewan Melata Keluar dari Bumi

"Saat oleng itu ada yang teriak, rem blong, rem blong, katanya. Terus bau karet ke bakar," kata Mimin, Jumat (12/3/2021).

Setelah itu, para penumpang panik dan tidak lama kemudian bus terperosok ke dalam jurang. 

"Alhamdulillah saya dan dua anak saya selamat," ujar Mimin.

Ia bercerita bisa menyelamatkan diri dari kecelakaan setelah berusaha mengeluarkan badan dari jepitan jok. Kemudian merangkak mencari kedua anak yang terpental ke belakang lalu keluar dari bus.

Tidak berselang lama, bantuan pun datang. Ia bersama anaknya dibawa ke rumah sakit.

AYO BACA : Segera Daftar Kartu Prakerja Gelombang 14, Waktu Tersisa 2 Hari Lagi

"Saya masih syok setelah kejadin ini, alhamdulilah masih diberi keselamatan," kata warga Desa Paku Haji, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang itu.

Korban selamat lainnya adalah Eha Nuraeti (55) warga Pasirlaja, Desa Pakuhaji, Kecamatan Cisalak, Subang.

Ia terpaksa melepas pakaiannya karena bajunya terjepit kerangka bus. Ia kemudian mengambil selimut yang berada di kabin bus, lalu keluar menuju rumah warga yang menolongnya.

"Pada waktu itu saya hanya fokus bagaimana caranya bisa keluar dari bus," ujar dia.

Ia mengaku awalnya tidak akan ikut rombangan ziarah acara sekolah tersebut. Namun karena khawatir anaknya terjadi sesuai dan sudah ada firasat khawatir kecelakaan maka akhirnya memutuskan ikut.

"Saya sengaja pulang dari sawah, tahu anak saya mau pergi saya pengen lihat dia perginya. Udah itu saya pulang tapi tetangga memaksa saya ikut. Kata bapak ya udah ikut aja biar anak tenang. Dari situ saya ada firasat khawatir kecelakaan," kata Eha.

Ia tak tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur karena bisa selamat dari kecelakaan dan bisa pulang ke rumah.

AYO BACA : Hujan Disertai Angin Kencang Terjang Mojokerto, 5 Rumah Rusak

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar