Iriani Kembangkan Batik Eco Printing dengan Memanfaatkan Dedaunan dan Pewarna Alami

  Minggu, 14 Maret 2021   Praditya Fauzi Rahman
Wahyu Iriani menunjukan hasil jadi Batik Eco Printing yang dibuatnya, Minggu (14/3/2021). (ayosurabaya)

SUKOLILO, AYOSURABAYA.COM -- Batik merupakan salah satu warisan budaya di Indonesia. Bahkan Unesco telah mematenkan kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan tulisan atau terapan malam pada selembar kain beserta proses tertentu secara khas itu menjadi Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan san Nonbendawi.

Di kota Surabaya sendiri, ada batik unik yang diciptakan dengan cara yang antimainstream. Sebab, umumnya membatik menggunakan teknik cetakan maupun canting dalam menciptakan gambar. Namun, tidak halnya bagi Wahyu Iriani yang menggunakan teknik Eco Printing. Dia mengatakan sudah 2 tahun menekuni kerajinan batik dengan proses tersebut. Selain karya yang dihasilkan lebih cepat dan lebih menarik juga diminati konsumen luar maupun dalam negeri. 

Dalam mewarnai maupun menggambar ukiran di lembaran kain, tidak menggunakan pewarna kimia, namun bahan alami. 

“Sama sekali tidak menggunakan bahan kimia," terang Iriani saat dijumpai AyoSurabaya.com, Minggu (14/3/2021).

Iriani mengungkapkan, penggunaan bahan alami jauh lebih baik dibanding kimia. Selain itu, bahannya mudah ditemukan.

"Bahan pewarna (alami), lebih bagus,” sambungnya.

AYO BACA : 5 Manfaat Minum Air Putih Hangat di Pagi Hari

Sebelum membatik, Iriani terlebih dulu menyiapkan beragam bahan yang dibutuhkan, mulai dari Tunjung, potongan Mahoni, Jelawe, Tingi, sampai bubuk Green tea sebagai andalan pewarna alaminya. Setelah lengkap, Iriani menata dedaunan maupun bunga yang hendak digunakan sebagai ukiran batik di kain katun atau sutra.

“Daunnya banyak ditemui, kita bisa cari disekitar kita," jelas dia sambil menunjukan dedaunan yang digunakan.

"Seperti daun jarak, jambu biji, daun jati muda, bisa juga daun ketepeng dan tabebuya," timpalnya lagi.

Terkadang, Iriani berkeliling ke kawasan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya hanya demi mencari daun jati. Bila tak ditemukan atau sukar mencarinya saat tidak sedang musimnya, Iriani mencari alternatif lain, yakni membeli melalui online. 

Menurutnya, pemilihan daun harus ekstra hati-hati. Contohnya, selembar daun jati yang bagus dan bisa digunakan sebagai batik eco printing yaitu daun jati muda. Sebab, daun jati muda lebih gampang untuk dibentuk, pewarnaanya pun cenderung lebih bagus. Maka dari itu, daun jati muda kerap diburu para pembatik seperti dirinya.

“Selain bagus, harganya (daun jati muda) lebih mahal. Kalau full motif daun jati, harganya melonjak,” tandasnya sembari membersihkan kain yang dipergunakan.

AYO BACA : Pendaftaran Kartu Prakerja Gelombang 14 Ditutup Hari Ini, Segera Daftar dan Ketahui Caranya untuk Lolos

Untuk membuat selembar kain batik, pertama-tama kain yang hendak digunakan membatik direndam selama delapan jam menggunakan cuka, tawas dan soda. Tujuannya, agar warna yang dihasilkan lebih awet dan tidak mudah pudar.

"Biar warnanya yang dihasilkan tidak luntur,” beber dia. 

Kedua, kain yang digunakan membatik itu kembali direndam dalam air yang sudah tercampur pewarna alami. 

Ketiga, menata daun pada kain utama usai direndam selama 8 jam itu. 

Keempat, kain yang telah melalui 2 proses perendaman itu menggunakan kain kedua, Iriani menyebutnya dengan blanket.

“Setelah ditata, kain utama tadi ditutup blanket atau kain kedua. Lalu, ditutup plastik,” paparnya. 

Terakhir, Iriani menutup kain dan menggulung kain. Setelah itu, kain tersebut dimasukkan ke dalam kayu atau paralon yang sudah dipersiapkan. Kain selanjutnya di kukus sekitar 2 jam.

“Setelah itu (dikukus), tinggal di dinginkan. Lalu dijemur sampai kering,” tutupnya.

AYO BACA : 3 Prosesi Wajib yang Dijalankan Umat Hindu saat Merayakan Nyepi

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar