Penyintas Covid-19 Harus Punya Tempat Lagi di Masyarakat

  Senin, 15 Maret 2021   Praditya Fauzi Rahman
[Ilustrasi] Penyintas covid-19 harus punya tempat lagi di masyarakat. (Pixabay)

BUBUTAN, AYOSURABAYA.COM -- Hampir 10 bulan beroperasi, Rumah Sakit lapangan Indrapura (RSLI) Surabaya sudah mewisuda atau menyatakan sembuh banyak pasien yang terjangkit Covid-19 di Jatim. Teranyar, Minggu (14/3/2021), ada 17 orang yang diwisuda.

Dari 17 orang tersebut, ada yang satu keluarga, ayah, ibu dan 2 anak; prajurit TNI; dan beberapa individu yang komposisinya masih merepresentasikan sejumlah “penyumbang” positif Covid-19 dari klaster instansi atau perusahaan dan keluarga.

Dengan adanya 17 wisudawan/wati tersebut, jumlah orang yang dirawat dan dinyatakan sembuh dari covid-19 pun semakin bertambah. Sampai Senin (15/3/2021) ini, ada 6.949 penderita Covid-19 masuk dan dirawat di RSLI.

Sesuai KMK Nomor HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19, pasien tanpa gejala (OTG) sampai gejala sedang yang telah dirawat 10 hari dan tak menunjukkan adanya gejala baru yang timbul dinyatakan sembuh dan keluar rumah sakit. Selanjutnya, mereka harus melakukan isolasi mandiri beberapa hari untuk memastikan tidak ada lagi gejala lain yang muncul.

Namun saat pulang, tidak sedikit penyintas mengalami penolakan dari lingkungan sekitar hingga tempat bekerja.

Salah satunya kisah yang dialami wanita berinisial M, penyintas dari kawasan Surabaya Selatan. Usai dinyatakan sembuh dan pulang dari RSLI, M gelisah. Saat ditanya pendamping, M takut pulang ke kos karena merasa belum sembuh. M juga takut lantaran pengelola kos yang telah diberi kabar perihal kesembuhannya enggan menerima M sebelum menunjukkan hasil swab negatif. M pun meminta relawan mendampingi hingga ke indekosnya.

“Sampeyan harus percaya diri dan yakin sudah sembuh, siap beraktivitas kembali seperti biasa dengan tetap menjalankan protokol kesehatan (prokes) selama pandemi masih berlangsung,” kata Sita Pramesthi, relawan Program Pendampingan Keluarga Pasien Covid-19 RSLI kepada awak media saat menirukan ucapan yang disampaikan kepada M, Senin (15/3/2021).

Sita lantas mengedukasi M. Pernyataan Sita disokong putusan dari Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) yang menyatakan bahwa hasil perwawatan dari tim dokter yang berkompeten dalam menangani Covid-19 di RSLI Surabaya. Dengan begitu, kesembuhan yang dinyatakan DPJP kepada M sudah melewati sejumlah pertimbangan medis yang masak nan terukur.

M yang sempat menolak pulang akhirnya pun mau diantar pulang hingga ke kosnya. Selanjutnya, relawan pendamping melakukan mediasi antara M dengan pengelola kos.

"Kepada pengelola kos, dijelaskan bahwa Nyonya M sudah menjalani isolasi dan perawatan 10 hari di RSLI, sudah dinyatakan sembuh oleh DPJP, sudah tidak membahayakan bagi orang lain," katanya, menggambarkan kembali suasana mediasi.

Potensi penularan dari virus yang masuk ke tubuhnya sudah sangat sedikit sekali. Diberikan penjelasan juga apa yang harus dilakukan penyintas selama isolasi mandiri tambahan 5 hari yang disarankan, agar penyintas dapat memastikan tidak timbul lagi gejala covid-19 serta dirinya lebih siap kembali ke masyarakat. Pengelola kos bisa menerima penjelasan tersebut, namun masih berpikir untuk meminta pertimbangan dari RT dan Satgas Covid-19 setempat, serta minta dibantu untuk menjelaskan.

Kemudian, Ketua Rukun Tetangga (RT) dan Tim Satuan Tugas (Satgas) setempat dihubungi dan diberikan penjelasan secara detil. Alhasil, penjelasan Sita memperoleh respons yang positif. Selain menerima penjelasan perihal penyintas Covid-19, seluruhnya yang hadir saat itu menyatakan siap dan sanggup berkoordinasi lebih lanjut untuk mengawasi serta membantu penyintas merampungkan isolasi mandiri.

Kisah lain datang dari penyintas asal kota Sidoarjo, sebut saja S. Penyintas asal kota Udang itu melakukan hal serupa seperti M, yakni mengabarkan kesembuhannya kepada keluarga dan perusahan tempatnya bekerja usai dirawat 10 hari di RSLI Surabaya. Bahkan, sejumlah berkas berupa rekam medis, surat keterangan sembuh, hingga surat rujuk balik monitoring ke faskes sudah lengkap, dan dikirimkan S ke perusahaan.

Sayangnya, harapan S bertepuk sebelah tangan. Setelah mengirimkan hasil tersebut, perusahaan justru meminta hasil lab terakhir. Saat S menyampaikan hasil swab terakhir yang masih positif, perusahaan meminta hasil swab harus negatif. S terkejut dan langsung menceritakan kendala itu kepada para relawan pendamping RSLI Surabaya.

S menyebut, selama menunggu masuk kerja, perusahaan tempatnya bekerja tak membiayai kebutuhanannya. Pun dengan tes PCR yang harus ditanggungnya sendiri. Relawan yang mengetahui hal itu lantas memotivasi S, meyakinkan bila benar-benar sembuh.

Relawan memotivasi S untuk melakukan negosiasi dengan perusahaan dan meminta agar tak perlu swab PCR negatif lantaran sudah dinyatakan sembuh oleh DPJP. Bila tak bisa, relawan akan mengupayakan swab antigen lantaran biaya lebih murah dan hasil lebih cepat. Sempat menjalani lobi-lobi alot bersama relawan, perusahaan akhirnya mau menerima opsi swab antigen sebagai persyaratan S agar bisa masuk kerja kembali.

Pada Minggu (14/3/2021), S dibantu menjalani swab antigen. Hasilnya negatif. S pun memperoleh kepastian untuk masuk kerja.

Kerap, kepulangan pasien sembuh RSLI Surabaya mengalami kendala nonmedis. Tak jarang, sejumlah kendala itu menyertai penyintas untuk kembali beraktivitas bersama masyarakat dan justru menjadikan beban tersendiri.

Bahkan, pelbagai pemahaman masyarakat awam, baik perangkat RT RW, hingga perusahaan akan Covid-19, khususnya tentang pemahaman pembacaan positif atau negatif dari hasil swab PCR, hingga kondisi sakit ataupun sembuh pasien Covid-19 masih menjadi permasalahan enteng namun pelik yang dialami para penyintas Covid-19.

Akibat permasalahan itu, tak sedikit penyintas menghadapi kesulitan secara ekonomi dan tertekan secara psikologis, hingga takut dengan hasil tes yang cenderung positif sekalipun memperoleh pendampingan dari pihak RSLI Surabaya.

"Sehingga, seringkali memberikan pedampingan kepada mereka. Tidak saja saat menyelesaikan isolasi mandiri tambahan, bahkan hingga waktu yang lebih lama," tuturnya.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar