[KULINER SURABAYA] Tape & Tetel yang Tetap Lestari Lewat Teknologi

  Selasa, 16 Maret 2021   Praditya Fauzi Rahman
Tampilan Tetel dan Tape yang dibuat Fatiyah dan Syamsul, Selasa (16/3/2021). (Istimewa)

GAYUNGAN, AYOSURABAYA.COM -- Fatiyah Hidayah (37) dan Syamsul Arifin (39) patut berbangga diri. Keisengannya terhadap kuliner Tape dan Tetel kini menjadi ladang rezeki bagi pasangan suami istri (pasutri) itu.

Keduanya mengaku beruntung unggahan Tetel dan Tape digandrungi para netizen di Instagram, Tiktok, hingga Facebook. Mayoritas komentar yang diperoleh pun positif dan mendorong mereka lebih berinovasi. Sampai akhirnya sukses membawa makanan khas perdesaan itu kian terkenal di perkotaan.

Fatiyah mengatakan, selain menjajakan makanan khas Jawa itu, melestarikan juga menjadi salah satu hal penting supaya generasi muda saat ini tak mudah melupakan jajanan pasar nan tradisional itu.

Saatnya Makan Siang, Tepo Tahu Khas Ngawi Bisa Jadi Pilihan Utama

“Berjualan itu untuk kebutuhan sehari-hari. Saya juga ingin mengajak anak-anak muda belajar dan membuat makanan tradisional ini (Tetel dan Tape). Cara membuat seperti orang-orang desa,” kata Fatiyah, Selasa (16/3/2021).

Mulanya, kecintaan dan rezeki yang diperolehnya kini merupakan buah manis saat mengikuti event Surabaya Smart City (SSC) 2020. Lambat laun, pasutri tersebut sukses mendapatkan pendapatan sampingan dari hasil usaha rumahannya itu.

Setiap hari, pasutri asal kota pahlawan itu memproduksi Tape Ketan dan Tetel untuk dijual melalui reseller atau tengkulak. Selain dipasarkan secara manual, mereka juga menjualnya di marketplace, baik Shopee, Tokopedia, maupun Bukalapak.

Rasa? tak perlu diragukan lagi. Fatiyah konsisten menjaga mutu, kualitas, dan keaslian jajanannya. Misalnya, Tape Ketan Hijau yang bercita rasa manis, legit, dan asam serta aroma ketan yang begitu kuat dan Tetel yang masih khas dengan gurihnya.

Rawon, Kuliner Khas Surabaya Ditahbiskan sebagai Sup Paling Enak se-Asia

“(Tetel) rasanya gurih dan manis, lebih cocok dimakan dengan Tape Ketan dengan cara dicocol,” kata wanita yang akrab disapa Ida itu.

Cara Membuat Tetel dan Tape

Sehari, pasutri itu mampu membuat 3 kilogram Tetel dengan melalui sejumlah tahapan.

  1. Tetel di proses dengan cara merendam beras ketan sekitar 2 jam.
  2. Adonan itu direbus berbarengan dengan kelapa. Keduanya dimasak bersama-sama sampai sampai kental.
  3. Ditumbuk hingga halus lalu dikemas.

Adapun tape, Fatiyah mampu memproduksi hingga 2 kilogram ketan hitam dan 2 kilogram tape ketan hijau.

Proses pembuatan Tape Ketan, yakni:

  1. Memasak beras ketan. Setelah matang, keringkan sesaat dengan mengangin-anginkan sampai adonan dingin.
  2. Taburi ketan dengan ragi agar lekas terfermentasi.
  3. Tunggu beberapa saat, lalu kemas.

“Tape ketan per kilo bisa jadi 6 kotak. Per kilo tetel bisa jadi 4 hingga 5 kotak,” kata Syamsul.

Selain memproduksi tape dan tetel dalam kemasan per kotak, Syamsul dan Fatiyah menerima pesanan dalam jumlah besar, seperti acara pernikahan, bancakan (syukuran), hingga lamaran.

Fatiyah kerap kebanjiran order saat ada hajatan ala tradisi Jawa Timur (Jatim). Sebut saja bayi yang turun tanah.

KULINER UNIK SURABAYA: Bakso Balballan sajikan Bakso Penalti hingga Bakso Tendangan Bebas

“Tujuh harian balita turun tanah itu warnanya 7. Jadi, numbuk tetel 7 kali, karena berbeda-beda warnanya,” kata keduanya, sahut menyahut.

Harganya pun relatif murah. Untuk Tape Ketan Hijau dan Hitam kemasan 400 gram, seharga Rp10.000. Untuk 300 gram Tetel dibanderol Rp10.000, sedangkan 600 gram Rp20.000.

“Harganya menyesuaikan bentuk dan ukuran. Ada bentuk love dan persegi, bisa request. Kalau pesanan skala besar, biasanya tergantung permintaan. Biasanya, pas musim nikah gitu ramai, banyak yang pesan,” kata warga Kalibutuh Timur Gang 2 Nomor 5 Surabaya itu.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar