Fenomena Ghosting di Kalangan Milenial dan Gen-Z, Apa Itu?

  Selasa, 16 Maret 2021   Praditya Fauzi Rahman
Ilustrasi . (Pexels dari Pixabay )

GUBENG, AYOSURABAYA.COM -- Kata-kata "ghosting" sedang ramai diperbincangkan khalayak. Terutama para kaum milenial di sejumlah perkotaan. Lalu, bagaimana tanggapan para pakar tentang Ghosting?

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Ilham Nur Alfian, mengatakan fenomena "ghosting" merupakan hal wajar dalam relasi. Menurutnya, fenomena seperti ini sudah ada sebelum ramai diperbincangkan di medsos. 

Ilham menganggap, perkembangan teknologi informasi yang pesat mempunyai dampak yang besar terhadap sejumlah jenis fenomena dan medsos dalam memperluas makna "ghosting"  Terlebih saat kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini.

“Ada situasi memang, ketika orang itu memutus hubungan atau komunikasi karena beberapa sebab," terang Ilham, Selasa (16/3/2021).

AYO BACA : Jika Mudik Tahun Ini Diizinkan, Menhub Prediksi Akan Terjadi Lonjakan

Penyebabnya pun beragam, mulai dari ketidaknyamanan dalam berkomunikasi dengan pasangannya, maupun ketidak cocokan persepsi dalam menjalin sebuah hubungan. Ia tak menampik bahwa pandemi Covid-19 mempunyai dampak tersendiri dalam beradaptasi dengan pola komunikasi baru. 

Bahkan, "ghosting" bisa saja muncul secara tiba-tiba dalam situasi pagebluk. Alasannya, individu tertentu merasa tak ada sesuatu yang bervariasi dalam proses interaksi. Termasuk interaksi yang tidak dilakukan secara langsung atau melalui media sosial.

Sesuai kesimpulan Ilham, para korban "ghosting" sejatinya akan lebih mudah beradaptasi. Namun, harus diwaspadai dengan kompensasi yang ada. Pasalnya, bila seseorang tersebut pernah menjadi korban, tidak menutup kemungkinan bisa menjadi pelaku pula.

“Siklusnya, pelaku bisa jadi, unsur traumatiknya sebenarnya nggak. Mungkin itu, tapi bukan trauma. Tapi, ingin membalas, begitu saja sebenarnya,” pungkasnya. 

AYO BACA : 3 Kawasan Wisata di Bali yang

Seringkali, korban "ghosting" merasa menyalahkan dirinya. Malah, beberapa aspek seperti itu dirasa perlu dihilangkan. Sehingga, korban "ghosting" seharusnya tak menyalahkan dirinya sendiri akibat kondisi dan situasi yang dirasakan. 

"Anggap saja itu kognitif. Situasi semacam ini adalah situasi yang umum, wajar dalam sebuah relasi (hubungan),” bebernya. 

Ilham menegaskan, mencari dukungan dari keluarga atau orang-orang terdekat adalah hal terpenting bila merasa menjadi korban "ghosting". Harus dipahami jua bahwa fenomena "ghosting" merupakan fenomena mainstream dalam sebuah komunikasi 2 arah atau satu sama lain.

Bahkan, harus siap secara kognitif dan mental dalam sebuah komunikasi virtual. Bila ada sejumlah varian, sambung dia, justru lebih baik dan menyenangkan. 

“Harus siap (dengan model-model interaksi virtual), karena peluang cepat jenuh pasti ada," ujarnya.

"Dalam konteks virtual komunikasi, variasi dengan mencari (relasi) yang baru atau lain lebih besar. Aspek atraktifnya cenderung lebih banyak,” tutup Ilham.

AYO BACA : Selain Jambu Biji, Kayu Manis Secara Alami Dapat Menurunkan Gula Darah

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar