Gubernur Jabar dan Jatim serta Sultan Yogyakarta Perbolehkan Mudik dengan Syarat, Bagaimana Jatim?

  Rabu, 17 Maret 2021   Andres Fatubun
Kepadatan arus mudik di tahun 2018. (ayosurabaya)

SURABAYA, AYOSURABAYA.COM -- Wacana izin mudik sedang ramai diperbincangkan. Pemerintah belum memutuskan apakah mudik di tengah pandemi yang sedang melambat ini diperbolehkan atau tidak.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, mengatakan pada dasarnya ia setuju mudik diperbolehlan dengan syarat penerapan protokol kesehatan, terutama 3M yakni memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Dia mengatakan, tahun ini berbeda dengan tahun lalu karena teknologi antigen untuk memeriksa COVID-19 telah tersedia dan bisa digunakan di mana pun.

Hal yang sama kurang lebih disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ia meminta pelaksanaan mudik Lebaran 2021 dilakukan secara terbatas dan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. 

Menurut Ganjar, semua yang berkaitan dengan pelaksanaan mudik Lebaran harus diperhatikan seperti penataan sistem transportasi dan persyaratan prosedur protokol kesehatan. Ganjar mencontohkan, masyarakat yang akan mudik menggunakan angkutan umum wajib melakukan tes cepat antigen atau menggunakan GeNose C-19 sesuai aturan Kementerian Perhubungan yang mewajibkan penumpang kereta api dan pesawat.

AYO BACA : Satgas Covid-19 Jatim Tanggapi soal Izin Mudik 2021

Meski diizinkan, katanya, pelaksanaan mudik tahun ini tidak boleh disamakan seperti mudik sebelum pandemi Covid-19. Sehingga mudiknya harus benar-benar terbatas dan ketat.

Begitu juga Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, tidak melarang warganya untuk mudik pada Idul Fitri 2021. Namun, ia menegaskan bahwa protokol kesehatan pencegahan Covid-19 harus diterapkan dengan ketat.

Sultan menuturkan, ia lebih cenderung untuk mengurangi hari mudik dan libur lebaran. Sehingga, hal ini juga dapat mengurangi mobilitas masyarakat.

Dengan begitu, penyebaran Covid-19 juga dapat ditekan. Tidak seperti libur panjang akhir tahun 2020 lalu, yang mana kasus Covid-19 meningkat di DIY. "(Lonjakan kasus usai libur panjang) Itu kan tidak terpenuhi 5M secara ketat," jelas Sultan.

Ia menegaskan, saat ini mobilitas masyarakat belum dapat dikembalikan secara normal. Sebab, peningkatan kasus Covid-19 di DIY masih fluktuatif.

AYO BACA : Tren Covid-19 di Malang Menurun, Mudik Diperbolehkan?

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar