Fighter Muay Thai di Surabaya Rindu Bertarung

  Minggu, 04 April 2021   Praditya Fauzi Rahman
Atlet muay Thai. (Khusen Rustamov dari Pixabay )

SUKOLILO, AYOSURABAYA.COM -- Seni bela diri Muay Thai semakin populer bagi warga Surabaya, khususnya dalam lima tahun terakhir. Upaya ini tak lepas dari kegigihan Jeffri Oktavian, Founder Rumble Training Camp Surabaya. Dari camp-nya lahir atlet beladiri profesional berskala lokal, nasional hingga internasional seperti Novian Hartanto, Begawan Milisna Supriyadi, dan Marton Tampubolon.

Jeffri mengaku bangga bisa mengharumkan nama kota pahlawan dalam kancah nasional dan internasional. Meski begitu, ia tak mau berpuas diri dan meningkatkan skill petarungnya agar menjadi lebih baik.

"Lokal sudah sering menang dan ikut, seperti di Malang, Jogja, Jakarta. Event Jiu Jitsu dulu juga pernah buat di PTC skala internasional, kita juga sering ikut internasional dan nasional," katanya saat bertemu dengan AyoSurabaya.com, Minggu (4/4/2021).

Kendati begitu, Jeffri mengaku tak berharap banyak dengan pemerintah. Mengingat, segala aktivitas dan event bergengsi yang diikuti hampir tak ada sama sekali dari pihak pemerintah. Baik dari Pemkot Surabaya maupun Pemprov Jatim.

AYO BACA : BMKG: Waspada, Wilayah yang Berpotensi Hujan Sangat Lebat Sepekan ke Depan

Namun, Jeffri hanya ingin pemerintah, terutama Pemkot Surabaya memberikan kemudahan dalam mengurus segala regulasi. Salah satunya adalah izin membuat event agar seluruh masyarakat bisa menikmatinya.

"Kami meminta, olahraga beladiri yang profesional. Artinya, tidak di bawah koni dan lebih diperhatikan. Karena kita berdikari sendiri, duit sendiri, tanpa sponsor dari siapapun. Sedangkan, kita ini juga sebenarnya melayani masyarakat juga dan membuat orang menjadi sehat dan kaitannya dengan orang yang berolahraga," tuturnya.

Secara tidak langsung, Jefri menganggap ia telah memberikan sumbangsih dalam hal kesehatan kepada masyarakat. Pun dengan menyumbang atelit professional yang tak terhitung jumlahnya.

Oleh karena itu, ia ingin pemerintah lebih mensuport dalam hal perijinan. Supaya, Jeffri bisa mencetak sejumlah atlet profesional dan mengharumkan kota pahlawan ke kancah dunia. Meski hal itu sudah pernah ia lakukan sebelumnya.

AYO BACA : Gelombang 17 Dibuka Kapan Ya?

"Terkadang, sulit untuk mencari sponsor di ekonomi seperti ini (pandemi Covid-19). Harapannya, pemerintah punya jalur support untuk olahraga yang profesional. Karena, kalau jalur KONI kan sudah ada institusinya, ada APBDnya, nah kalo di kami kan tidak ada. Mungkin cabornya sama, tapi eventnya berbeda, gengsinya berbeda," ujar pria yang memiliki ring octagon pertama di Jatim itu.

Jeffri menilai, seni beladiri saat ini justru lebih menarik. Lantaran, dikemas secara apik berbarengan dengan entertaintment. Terlebih, beladiri saat ini sudah menjadi salah satu hal wajib bagi kaum millenials, terlebih di kota-kota besar.

"Kalau kita, muaranya di event-event bergengsi di dunia skala internasional, secara tidak langsung mengharumkan nama Indonesia juga. Justru, olahraga beladiri di kami saat ini adalah sportainment juga, show business, saat ini belum ada jalur pemerintah yang mewadahi. Sehingga, itulah mengapa event-event profesional jarang ada di Surabaya," kata dia.

Jeffri hanya ingin, pemerintah mendukung bangkitnya seni beladiri dengan sejumlah event lagi. Bahkan, ia juga mewajibkan para atletnya untuk taat protokol kesehatan (prokes) dan menjaga kebugaran hingga hari H pertandingan.

Ia mengungkapkan, hal tersebut juga diharapkan para atlet-atletnya yang sudah rindu dengan pertarungan di ring. "Saya ingin membuat event saja susah, karena penuh perjuangan. waktu itu di PTC kan saya berdikari membuat event, mencari sponsor dan semuanya sendiri. Kalau kaitannya dengan pemerintah ya hanya support regulasi, itu sudah sangat membantu sekali, seperti perizinan, keramaian, dan-lain-lain," tutup dia.

AYO BACA : Polisi: Senpi yang Diacungkan Pengemudi Fortuner Ilegal

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar