Polrestabes Surabaya Klarifikasi Isu Hilangnya Barbuk 11 Kilogram Sabu-sabu

  Rabu, 07 April 2021   Praditya Fauzi Rahman
Satresnarkoba Polrestabes Surabaya saat hendak menunjukan LP dan mengklarifikasi perihal isu hilangnya barang bukti, Rabu (7/4/2021). (ayosurabaya/Praditya Fauzi Rahman)

BUBUTAN, AYOSURABAYA.COM -- Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S Pane, telah meminta Kabareskrim membentuk tim khusus untuk mengusut dugaan hilangnya barang bukti 11 kilogram narkotika jenis sabu-sabu yang diduga terjadi di Kota Surabaya, Jawa Timur (Jatim). 

Informasi itu diperoleh AyoSurabaya.com pada Selasa (6/4/2021) kemarin.

"Agar diketahui secara persis, barang bukti itu hilang di lingkungan kepolisian, kejaksaan, atau di mana. Tikus-tikus pengutilnya tidak boleh dibiarkan," kata Neta melalui potongan keterangan tertulis yang diperoleh AyoSurabaya.com pada Selasa (6/4/2021) kemarin. 

Perlu diketahui, barang bukti 11 kilogram sabu-sabu yang diduga hilang itu terungkap ketika sidang terhadap Agus Hariyanto sebagai kurir narkoba asal Medan berlangsung di Kota Pahlawan, dimana sebelumnya sudah terlebih dulu ditangkap pada (5/9/2020) di sebuah hotel di area Sukomanunggal, Kota Surabaya bersama 2 terdakwa lain. Kala itu, diamankan pula barang bukti 21 kilogram sabu-sabu dari para tersangka.

AYO BACA : BMKG: Siklon Tropis Seroja Diprediksi Meningkat 24 Jam Ke Depan, Jatim Terdampak

Namun, berdasarkan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Surabaya, barang bukti dari terdakwa Agus merupakan sabu-sabu dengan bobot 10 kilogram. Neta lantas mempertanyakan 11 kilogram sabu-sabu lainnya yang diduga hilang. 

Lantas, bagaimana tanggapan dari pihak Polrestabes Surabaya?

Wakasat Resnarkoba Polrestabes Surabaya Kompol Heru Dwi angkat bicara perihal tersebut. Ia mencoba meluruskan dan mengklarifikasi isu terkait barang bukti yang lenyap itu. 

Heru menurutkan, ketika membekuk Agus, pihaknya juga menelusuri jaringan lainnya. Pun dengan meringkus 2 tersangka lain, yaitu Nur Cholis dan Riki Reinnaldi. Tapi, personel Heru terpaksa melakukan tindakan tegas berupa tembak mati lantaran Nur dan Riki berupaya melawan serta mengancam keselamatan personelnya dengan menyabetkan benda tajam.

AYO BACA : 12 Ribu Peserta Gelombang 13 Akan Dicabut Jika Tidak Melakukan Ini

"1 orang petugas kami mengalami luka (sabetan benda tajam), bagian lengan," kata Heru saat berada di Mapolrestabes Surabaya, Rabu (7/4/2021).

Meski begitu, kronologi penangkapan tersebut berbeda dengan versi IPW yang menyebutkan Agus tak ditangkap bersama Nur dan Riki, melainkan bersama Riki saat berada di sebuah bus yang melintas di Jalan Legundi.

Dalam penjelasannya, Nur ditembak mati di kawasan Perak Utara, Surabaya ketika polisi memintanya untuk menunjukkan gudang penyimpanan sabu-sabu. Kronologi tersebut sesuai dengan surat dakwaan JPU.

Polisi pun membuat LP masing-masing pelaku berbeda. Sebab, lokasi penangkapan, waktu, dan pasal yang disangkakan tak sama.

Heru menegaskan, 21 kilogram sabu-sabu tersebut bukan hasil dari 1 penangkapan. Heru menyebutkan secara detil bahwa, 21 kilogram itu berasal dari: 10 kilogram dari Agus, 10 kilogram dari Riki, 1 kilogram dari Nur. 

"Ada yang membawa atau memiliki, bergantung beratnya, juga beda," ujarnya. Tidak ada 1 gram pun narkotika yang tidak bisa kami pertanggungjawabkan. Seluruh barang bukti, sudah dimusnahkan, sesuai dengan berita acara pemusnahan (26 Oktober 2020)," tutup dia.

AYO BACA : Alasan Kediri, Surabaya, dan Malang Belum Uji Coba Belajar Tatap Muka

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar