Persiapan SD Al Falah Surabaya Menyambut Pondok Ramadan Secara Daring

  Kamis, 08 April 2021   Praditya Fauzi Rahman
Siswa kelas 6 SD Al Islam Al Falah Surabaya, Ismatullah Alkautsar mengikuti simulasi Pondok Ramadhan via daring, Kamis (8/4/2021).

WONOKROMO, AYOSURABAYA.COM -- Menjelang bulan suci ramadan, masyarakat mulai berlomba-lomba meningkatkan Ukhuwah Islamiyah, Wathaniyah, hingga Insaniyah. Bahkan, hal tersebut juga diterapkan kepada anak-anak sejak dini.

Salah satunya adalah yang diterapkan oleh Sekolah Dasar (SD) Al Islam Al Falah Surabaya. Para tenaga pendidik atau guru di sekolah Islam tersebut akan melakukan kegiatan Pondok ramadan seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, ada yang unik, yakni dilakukan secara daring.

Koordinator SD Al Islam Al Falah Surabaya, Juwito Ashari mengatakan, ada 3 tahapan pembelajaran selama bulan puasa kepada ratusan peserta didik dari kelas 1 sampai 6 SD.
"Yang pertama kita terapkan Tarkhid (pembukaan Pondok ramadan), lalu kegiatannya (Pondok ramadan), dan Closing," kata Juwito kepada AyoSurabaya.com, Kamis (8/4/2021).

Kendati kegiatan Pondok ramadan akan dilakukan pada tanggal 21 sampai 24 April 2021 mendatang, namun Juwito ingin anak-anak belajar jauh hari sebelumnya. Supaya, tidak canggung saat melaksanakan kegiatan secara online itu.

Juwito menerangkan, supaya anak-anak lebih fokus dan senang melaksanakan belajar daring selama Pondok ramadan, pihaknya berupaya mengemas kegiatan dalam sebuah konten secara menarik. Nantinya, konten itu akan dibagikan kepada peserta didik, dipelajari, dan diterapkan secara bergiliran.

"Iya, selama 4 hari itu full Pondok ramadan. Biar lebih menarik, biar lebih fokus, kami kembangkan Pondok ramadan yang 'ikut aktif', konten-kontennya kita kemas secara menarik," tuturnya.

Misalnya, tentang pembelajaran Al Quran dengan video yang ada, para guru akan menerangkan tentang ke'Al Quran'an, Fiqih, latihan sholat Id, motivasi, sampai Syiroh (sejarah) tentang nabi. Harapannya, selain anak-anak bisa mengerti dan menerapkan ajaran itu, tapi juga bangga dengan keislaman yang dianut.

AYO BACA : Jika Tidak Lolos Gelombang 16, Apakah Harus Melakukan Pendaftaran Ulang di Gelombang 17?

Selain itu, ada lagi kegiatan ngabuburit sejak pukul 16.00 hingga 17.30 WIB yang juga dilakukan secara daring via Zoom. Dalam ngabuburit itu, para guru dan anak-anak saling tausyiah antara satu dengan yang lain secara bergantian.

"Harapannya, tetap semangat ibadah, belajar, karena belajar tidak perlu menunggu diruangan atau offline, tapi juga online, bisa otodidak sendiri. Tapi yang penting, belajar itu harus ada guru supaya spiritualnya bisa bertransformasi," ujarnya

Materi pembiasaan Ibadah selama ramadan meliputi kontrol shalat wajib, tarawih, hingga tadarus. Untuk penilaiannya akan dilampirkan melalui Google Form, mulai dari skor atau nilai, laporan progres ibadah masing, hingga pendampingan dari orang tua. Selama 4 hari Pondok ramadan, Juwito memiliki target anak-anak hafal Al Fatiqah dengan terjemahannya. 

"Ini penting, karena ini (Al Fatiqah) adalah bacaan wajib dalam sholat. Karena online kan mudah ya, kita pakai video dan gerakan-gerakan, misalnya dengan meletakkan tangan ke dada kita dan menyebut nama Allah, begitu juga yang lain di videonya," kata Juwito sembari mencontohkan gerakan dalam video.

Terpisah, seorang Siswa kelas 6 SD Al Islam Al Falah Surabaya, Ismatullah Alkautsar mengaku senang bisa melakoni Pondok ramadan meski secara daring. Sebab, ia tak hanya berbarengan dengan teman sekelasnya saja, tapi juga dengan para siswa lain yang jumlahnya mencapai 700 peserta didik.

"Senang bisa belajar ramai-ramai," akunya kepada AyoSurabaya.com sembari membaca Surat Al Fatiqah di Al Quran dihadapannya.

Senada, orang tua Ismatullah, yakni Atik Aryani menyadari bahwa kegiatan daring selama ramadan adalah salah satu solusi yang terbaik. Mengingat, kondisi pagebluk belum usai dan belum dibuka pembelajaran tatap muka.

AYO BACA : 130.331 Data Pengguna Facebook di Indonesia Bocor, Kamu Termasuk? Begini Cara Mengeceknya

"Apalagi, ramadan ini juga penting kepada anak-anak dan mengenalkan anak-anak sejak dini untuk sukacita menyambut ramadan. Apapun sarananya atau medianya, seperti virtual, harus kita support, supaya anak-anak juga termotivasi," kata Atik kepada AyoSurabaya.com.

Kendati tugas orangtua bertambah, namun Atik merasa tak terbebani dan abai dengan hal itu. Ia mengaku lebih terkonsentrasi dengan pendidikan dan masa depan kedua putranya yang duduk di bangku kelas 5 dan 6 SD Al Falah itu.

Tetapi, kalau orangtua yang betul-betul consern dan mementingkan pendidikan anak, juga harus mau repot dan mau berkorban demi anak-anak, agar tetap mendapatkan pendidikan yang baik.

"Harus kita pikirkan anak juga harus tetap ada kegiatan jadi jangan sampai juga otaknya sempat freezing (beku), karena seperti ini (daring) itu ujian juga ya, karena mereka itu generasi corona, lebih banyak dengan gadget," tuturnya, lalu tersenyum.

Atik mengaku telah berdiskusi lebih lanjut kepada para orangtua peserta didik lain dan guru. Menurutnya, banyak guru-guru yang mendorong para orangtua harus memotivasi anak untuk ikut zoom secara intens. 

Saat disinggung perihal pembelajaran tatap muka, Atik mengaku tak keberatan dan memperbolehkan buah hatinya bersekolah secara manual. Tapi, ia mewanti-wanti para guru atau anak-anak untuk memperoleh vaksinasi Covid-19 terlebih dulu.

"Kalau kegiatan tatap muka, saya dan bapak sudah berunding karena kan sudah melihat bagaimana situasinya. Karena, kita sudah tahu bahwa guru-guru sudah di vaksin. Kalau memang anak-anak sudah di vaksin, kami mengizinkan untuk sekolah tetap muka dan situasinya juga memang memungkinkan, tapi kalau memang belum ya kita tidak akan ijinkan. Insya allah, kalau saya melihat perkembangannya ke sini sudah banyak yang vaksin dan kalau sudah dianggap safe (aman) ya sudah," tutupnya.

 

AYO BACA : Piala Menpora: Siapa Lawan Persebaya di Babak Perempat Final?

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar