Psikolog Nilai Generasi Milenial Terpengaruh Paham Radikal Melalui Media Sosial

  Kamis, 08 April 2021   Praditya Fauzi Rahman
Ilustrasi media sosial. (Pixelkult dari Pixabay )

GUBENG, AYOSURABAYA.COM -- Sejumlah fakta diperoleh aparat kepolisian dalam peristiwa bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu. Begitu juga dengan penyusup yang berupaya menyerang Mabes Polri. 

Salah satu fakta yang disoroti adalah pelaku merupakan generasi milennial. ZA pelaku penyerangan berusia 25 tahun dan L pelaku bom berusia 26 tahun. Pun dengan surat wasiat mereka yang seolah menggunakan isi serupa.

Dari sana, munculah dugaan bila milenial merupakan umur yang produktif dan mudah terpapar paham radikal. 

Psikolog Universitas Airlangga (Unair), Ilham Nur Alfian, mengatakan penyebaran radikalisme bukan menyasar usian milennial dan transmisi medianya. 

“Konteksnya adalah model doktrinasi ideologi kekerasan dan radikalisme tersebut, dilakukan dengan media sosial,” kata Ilham melalui keterangan tertulis yang diperoleh AyoSurabaya.com, Kamis (8/4/2021). 

Ilham menjelaskan, terorisme modern lebih menyasar propaganda virtual dan menggunakan media sosial sebagai jembatan untuk menggandakan teror maupun pelaku teror dalam sebuah negara. Menurutnya, serangan teroris modern belakangan ini mengalami penurunan, baik dalam popularitas maupun kualitas. 

Ilham menuturkan, kaum millennial yang kerap browsing melalui beragam media sosial menjadi salah satu alasan bila mereka mudah terpapar ideologi terorisme dan kekerasan.

"Kelompok milennial atau yang saat ini masuk usia produktif pasti sangat berisiko, rentan menerima doktrin tersebut. Karena, aktivitas mereka memang berselancar di media sosial,” tutur Koordinator Bidang Kuliah Bersama Pusat Pendidikan Kebangsaan, Karakter dan Inter Profesional Education (PPK2IPE) Unair itu.

Untuk individu yang terkontaminasi propaganda virtual, kerap melakukan pola serangan terorisme bersifat "Lone Wolf' dan beraksi dengan acak nan skala kecil. Secara psikologis, menurut Ilham karakteristik seorang teroris sulit diidentifikasi. Hal itu dinilai berbahaya lantaran serangan bisa terjadi dimana pun dan kapanpun.

Ilham berharap, masyarakat, terutama milenial harus berhati-hati dalam menerima segala informasi, salah satunya dengan cara berpikir kritis dalam beragam informasi di media sosial. Supaya, bisa meminimalisasi atau mencegah masyarakat tidak mudah terpapar ideologi kekerasan dan terorisme.

"Disinilah bahayanya serangan bisa terjadi dimana saja dan kapan saja,  agak sulit memang, mengidentifikasi karakteristik psikologis apa yang secara khusus, bisa mengidentifikasi kecenderungan orang-orang yang akan melakukan tindakan (terorisme),” tutupnya.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar