Gempa Bumi di Malang Disebut Lebih Parah Daripada Dekade Lalu

  Minggu, 11 April 2021   Andres Fatubun
Pengungsi berkumpul di Kantor Desa Majang Tengah bersama relawan PMI, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Minggu (11/4/2021). (ayosurabaya/Praditya Fauzi Rahman)

MALANG, AYOSURABAYA.COM - AyoSurabaya.com mengunjungi sebuah posko pengungsian korban gempa bumi di Kantor Desa Majangtengah, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur (Jatim) pada Minggu (11/4/2021) pagi sekitar pukul 10.30 WIB. Para relawan berseragam Palang Merah Indonesia (PMI) terlihat sedang mempersiapkan aneka kebutuhan medis, pangan, dan melakukan beragam aktivitas sosial.

Ketua Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) Kecamatan Dampit, Supratoyo mengatakan, saat gempa bumi terjadi pada Sabtu (10/4/2021) siang, getaran terasa di hampir seluruh desa di Kecamatan Dampit. Menurutnya, gempa yang dirasakan tersebut, lebih para dibanding tahun 2009 silam.

Padahal, gempa bumi yang melanda desanya itu terbilang sangat singkat. Namun, Supratoyo menilai, dampak yang dirasakan luar biasa.

"Kejadiannya Sabtu (10/4/2021) kemarin, sekitar Pukul 14.01 WIB. Durasi sekitar 15 detik saat guncangan pertama itu keras, lalu semakin mengeras sampai ke detik 20," kata Supratoyo saat ditemui AyoSurabaya.com di lokasi, Minggu (11/4/2021)

Supratoyo mengungkapkan, getaran hebat tak hanya dirasakan di Desa Majangtengah saja, tapi juga seluruh area di Kabupaten Malang. Untuk desa terdekat, yakni Desa Pamotan, pun demikian. Sejumlah rumah warga roboh, tembok ambruk, genting berceceran, dan puing-puing bangunan berserakan dimana-mana.

"Gempa terparah di Desa Pamotan, menyusul di Majangtengah. Jadi, untuk kawasan Dusun Pamotan, yang ada di Kampung Dandang, ada beberapa RT rumah rusak semua, ada 7 yang ambruk, itu lokasinya di RT.03, RT.05, RT.06, RT.07, dan RT.08, itu rusak berat," tuturnya.

AYO BACA : Gelombang 17 Kemungkinan Dibuka Setelah Lebaran, Kuotanya Lebih Sedikit?

Meski begitu, ia bersyukur lantaran gempa bumi tak sampai memutus akses jalan raya dari satu desa ke desa lain. Pasalnya, mayoritas desa di Kecamatan Dampit, menggunakan jalan raya sebagai satu-satunya akses untuk sejumlah rutinitas harian, baik bekerja, bertamu, maupun bersilaturahmi dari satu desa ke desa lain.

"Untuk akses di jalan raya tidak terhambat, cuma kegiatan warga langsung bergeser ke tempat yang aman," ujarnya lalu menunjukan foto rumah warga yang ambruk kepada AyoSurabaya.com.

Untuk proses evakuasi, timnya langsung dikerahkan ke sejumlah rumah warga yang menjadi korban. Begitu pula dengan yang terdampak, diarahkan ke puskesmas terdekat untuk penanganan lebih lanjut. Sedangkan, sejumlah warga yang rumahnya ambruk namun selamat, dievakuasi ke kantor desa terdekat.

"Untuk mengevakuasi, kita merapat ke warga dengan Pak RT, tokoh-tokoh masyarakat, dan aparatur pemerintahan untuk mengevakuasi korban, karena ada yang tertimpa genting atau bata, bisa dirujuk ke puskesmas terdekat. Korban luka sejauh ini di Pamotan ada 2 orang yang tertimpa bata dan genting, di Majangtengah cuma 1 orang, dibawa ke Puskesmas Pamotan, jaraknya sekitar 1 kilometer darisini," katanya.

Diketahui, ada ribuan orang yang berada di beberapa desa di Kecamatan Dampit saat gempa bumi terjadi. Data yang diperoleh AyoSurabaya.com menyebutkan, ada 10.000 orang di Desa Majangtengah dan 12.000 orang di Desa Pamotan, Kecamatan Dampit.

Beruntung, tidak ada korban jiwa di 2 desa itu saat 'lindu' berlangsung. Namun, ribuan warga kehilangan tempat tinggalnya akibat gempa dengan kekuatan magnitudo 6,1 itu.

Sebelumnya, gempa bumi mengguncang Pulau Jawa pada Sabtu (10/4/2021) siang sekitar pukul 14.00 WIB. Getaran juga terasa hingga Kota Surabaya, Sidoarjo, hingga sejumlah daerah lainnya kendati magnitudo 6,7 SR itu berpusat di 8,8 LS, 112.50 BT, 31 kilometer di Pulau Jawa.

AYO BACA : Jika Tidak Lolos Gelombang 16, Apakah Harus Melakukan Pendaftaran Ulang di Gelombang 17?

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar