5M: Martabak Mie Madura Memang Maknyos !

  Jumat, 16 April 2021   Praditya Fauzi Rahman
Siti Rokhayah (35) sedang meladeni pembeli menjajakan Martabak Mie khas Madura di Jalan Karangmenjangan Surabaya, Jumat (16/4/2021). (ayosurabaya/Praditya Fauzi Rahman)

GUBENG, AYOSURABAYA.COM -- Bagi warga Kota Surabaya tak susah mencari Martabak Mie untuk hidangan berbuka puasa Ramadan. Sebab, kuliner asal Pulau Madura ini, sering dijual di setiap pasar tradisional. Bahkan hampir setiap persimpangan selalu ada yang menjajakannya.

Pada Jumat (16/4/2021) sore, AyoSurabaya.com mengunjungi bazar Ramadan di sepanjang Jalan Karangmenjangan, tepatnya dibalik RSUD Dr.Soetomo Surabaya. Disana, beragam kuliner ringan hingga berat berbanjar dari sisi utara hingga ke selatan.

Namun, yang paling menggugah selera adalah Martabak Mie. Saat mendatangi lapak yang sangat sederhana, beralas koran dan meja berukuran 1x3 meter, jajan khas Pulau Garam itu masih fresh.

AYO BACA : Ini Urutan Surat Pendek yang Dibaca saat Salat Witir

Penjual Martabak Mie Karangmenjangan, Siti Rokhayah mengaku sengaja memamerkan proses pembuatan dan menjualnya langsung kepada konsumen. Selain efektif dan efisien untuk mempersingkat waktu, konsumen yang penasaran juga bisa melihat proses pembuatannya secara langsung.

"Ben gak riwa-riwi nak omah njupuk adonan, Mas. Nek dadi siji nak kene kan enak, garek ngedoli tok lek onok wong tuku (Biar tidak mondar-mandir ke rumah ambil adonan, Mas. Kalau jadi satu disini kan enak, tinggal meladeni pembeli saja kalau ada yang datang)," kata wanita asal Kabupaten Bangkalan, Madura itu, Jumat (16/4/2021).

Siti mengungkapkan, bahan yang digunakan untuk membuat martabak mie Madura sangat sederhana dan mudah dijumpai di seluruh pasar. Mulai dari telur, air mineral, bihun, tepung terigu, hingga garam dan wortel.

AYO BACA : Begini Salat Tarawih di Rumah dan Urutan Bacaan Surat Pendeknya

Mulanya, Siti membuat adonan kulit dari tepung terigu yang sudah diracik sedemikian rupa dalam wajan. Setelah itu, Siti mencampurkan rebusan bihun yang sudah dicampur sayuran dan bumbu-bumbu khusus ke dalam kulit itu. Kulit dan bihun itu lalu dilipat berbentuk segitiga. Sebelum digoreng, ia mengoleskan putih telur ke beberapa sisi kulit agar lebih rapat saat masuk ke dalam minyak panas.

Siti mengaku sudah puluhan tahun berjualan di lokasi yang sama. Omsetnya pun fluktuatif, tergantung durasi buka, arus lalu lintas, dan momen-momen tertentu seperti Ramadan kali ini.

Saat Ramadan, Siti mengaku omsetnya hampir sama dengan hari--hari biasanya. Namun, ia hanya berdagang saat sore hari menjelang berbuka saja. Pada hari biasa, ia berjualan pada pagi hari.

"Lek dino biasa, buka'e isuk, lek posoan ngene sore. Lek olehe duit gak mesti, tapi roto-roto meh podo lah karo dino biasa, Rp 200.000 - Rp 300.000 an sedino (Hari biasa bukanya pagi, kalau Ramadan hanya sore hari. Omsetnya rata-rata hampir sama lah seperti hari biasa, Rp 200.000 - Rp 300.000 per hari)," tutur wanita yang tinggal di Jalan Mojo, Surabaya itu.

Selain menjajakan martabak mie, wanita berusia 35 tahun itu juga menjual aneka gorengan lainnya. Mulai dari kucur, tahu isi, sampai ote-ote. Harganya sangat murah, yakni Rp 1000 per bijinya.

Caption: 
1. Siti Rokhayah (35) sedang meladeni pembeli menjajakan Martabak Mie khas Madura di Jalan Karangmenjangan Surabaya, Jumat (16/4/2021).
2. Warga berburu takjil di kawasan Karangmenjangan Surabaya, Jumat (16/4/2021).

AYO BACA : Petasan Meledak di Jombang: Anak Tewas, Ibu Terluka Bakar

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar