Shalat Tarawih Cepat Sah atau Tidak? Ini Kisah di Zaman Rasulullah SAW

  Sabtu, 17 April 2021   M. Naufal Hafizh
Viral Tarawih cepat di Indramayu (instagram/duniapunyacerita)

JAKARTA, AYOSURABAYA.COM – Belakangan beredar vdeo shalat tarawih cepat dengan satu rakaat hanya dilakukan 20 detik, sehingga total hanya berlangsung 10 menit menimbulkan keprihatinan ulama. Lantaran ribuan jemaah berbondong-bondong mengikuti shalat tarawih tersebut.

“Shalat tarawih berapapun banyaknya rakaat tidak masalah. Tapi, harus diingat salah satu rukun shalat adalah tumakninah,” jelas ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, dikutip dari Republika.

Kadar tumakninah dalam rukuk dan sujud, menurut ulama Syafi’iyah ketika sudah mendapat sekali bacaan tasbih. Kalau di bawah itu, ujar Abduh, berarti tidak ada tumakninah. Implikasinya, shalat tidak sah karena kita sudah melalaikan satu rukun shalat.

Dia mengisahkan, dalam sebuah hadits Rasulullah pernah memerintahkan kepada seseorang yang shalatnya begitu cepat untuk mengulangi lagi. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ketika Nabi Muhammad masuk masjid, masuklah seseorang lalu dia melaksanakan shalat.

Setelah selesai, seseorang itu datang dan memberi salam kepada Nabi. Nabi menjawab salam itu, lalu berkata, ”Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Orang itu pun kembali shalat.

Tak berapa lama, dia datang lagi kepada Rasulullah. Nabi mengulangi perintah yang sama, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Perintah itu diulangi sampai tiga kali.

Seseorang itu kemudian berkata, “Demi yang mengutusmu membawa kebenaran, aku tidak bisa melakukan shalat lebih baik dari itu. Maka, ajarilah aku!” Nabi lantas mengajarinya.

Syaikh Abdurrahman bin Qasim mengatakan, banyak sekali imam yang ketika melaksanakan shalat tarawih tidak memakai nalar. Mereka melakukannya tanpa ada tumakninah ketika rukuk dan sujud. Padahal, tumakninah termasuk rukun shalat.

Dalam shalat pun kita dituntut untuk menghadirkan hati dan mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah yang dibaca. Tentu tumakninah dan khusyuk tidak didapati ketika seseorang berpacu dengan waktu dalam shalatnya.

“Ruh shalat adalah ketika hati benar-benar menghadap Allah.”

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar