Cara Sholat Tarawih 2 Rakaat Salam & 4 Rakaat Salam, Niat & Doa Usai Sholat Tarawih

  Sabtu, 17 April 2021   A. Dadan Muhanda
Ilustrasi - Cara Sholat Tarawih 2 Rakaat Salam & 4 Rakaat Salam, Niat & Doa Usai Sholat Tarawih. (Ayobandung.com)

Artikel ini membahas cara sholat tarawih, niat shalat tarawih, cara shalat tarawih 2 rakaat sekali salam, cara shatal tarawih 4 rakaat sekali salam, dan doa kamilin atau doa yang biasa dibaca setelah sholat tarawih.

AYOSURABAYA.COM -- Tata cara sholat Tarawih dibutuhkan umat muslim usai menjalankan ibadah puasa di tengah pandemi. Hal itu karena sangat memungkinkan pelaksanaan salat tarawih bagi sebagian negara di dunia dilakukan di rumah, termasuk Indonesia.

Namun, saat ini pelaksanaan sholat tarawih pada puasa 2021 sudah diizinkan dilakukan berjemaah di masjid namun dengan mematuhi portokol kesehatan yang ketat. 

Niat Sholat Tarawih

Nah, bagaimana tata cara Sholat Tarawih? Sholat tarawih secara umum dilakukan dua rakaat-dua rakaat dengan satu salam, sama saja dengan salat sunat lainnya. Yang membedakan adalah niatnya. Menurut Mazhab Syafii, niat tersebut harus diucapkan sebelum melakukan takbiratul ihram. Berikut ini niat salat sunat tarawih:

Niat salat tarawih untuk imam:  

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا ِللهِ تَعَالَى

USHALLI SUNNATAT TARAWIHI RAK’ATAINI MUSTAQBILAL QIBLATA ADAAN IMAMAN LILLAHI TA’LA

(saya niat sholat sunnah tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat secara langsung sebagai imam karena Allah SWT) 

Niat salat tarawih untuk makmum:

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

USHALLI SUNNATAT TARAWIHI RAK’ATAINI MUSTAQBILAL QIBLATA ADAAN MA’MUMAN LILLAHI TA’LA

(saya niat sholat sunnah tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat secara langsung sebagai makmum karena Allah SWT)

 

Sejarah Sholat Tarawih

Ahmad Zarkasih Lc dalam Sejarah Tarawih menjelaskan, istilah tarawih tidak dikenal oleh Nabi Muhammad SAW dan juga oleh sahabatnya Abu Bakar RA. 

"Karena memang dulu, Nabi Muhammad SAW menyebutnya bukan dengan istilah tarawih, tapi dengan nama qiyam Ramadan, yakni penghidupan atas malam Ramadan. Maksudnya ibadah guna menghidup malam-malam Ramadan," tulis dia dalam bukunya tersebut. 

Zarkasih menuturkan, bahwa kata tarawih itu adalah bentuk plural (jamak) dari single tarwiih. Dan tarwiih adalah bentuk mashdar kata sifat atau hasil kerja dari kata kerja rawwaha yurawwihu.  

Munculnya nama tarawih kata dia, sebagai istilah yang dipakai oleh banyak atau hampir seluruh ulama untuk menyebut salat sunat malam Ramadan ini bisa jadi ada beberapa kemungkinan. Salah satunya adalah apa yang terjadi di masa Umar bin al-Khattab menjabat. 

Yakni dari riwayat Imam al-Marwadzi dalam kitabnya Kitab Qiyam Ramadhan. Dari al-Hasan, Umar RA memerintahkan Ubai untuk menjadi imam pada Qiyam Ramadhan, dan mereka tidur di seperempat pertama malam. Lalu mengerjakan salat di 2/4 malam setelahnya. Dan selesai di 1/4 malam terakhir, mereka pun pulang dan sahur.   

Mereka membaca 5-6 ayat pada setiap rakaat. Dan salat dengan 18 rakaat yang salam setiap dua rakaat, dan memberikan mereka istirahat sekedar berwudhu dan menunaikan hajat mereka.

"Menjadi mungkin istilah tarawih muncul di masa ini, karena dalam riwayat di atas, Ubai bin Ka’ab diperintah oleh Umar r.a. untuk menjadi imam Qiyam Ramadhan dengan bacaan 5-6 ayat di setiap rakaat. Dan setiap 2 rakaat, istirahat. Dengan redaksi riwayat seperti ini. "Memberikan mereka istirahat sekadar berwudhu dan menunaikan hajat mereka."

Bisa jadi kata Zarkasih, itulah mengapa salat ini disebut dengan istilah tarawih, karena pelaksaannya ketika zaman ini, imam memberikan banyak tarawih, alias istirahat untuk para makmum di setiap selesai dua rakaat. Itu berarti jika sholat dikerjakan dengan 18 rakaat, mereka mendapatkan 9 kali tarawih.

Dan kalau salat itu dikerjakan dengan 20 rakaat, maka tarawih yang ada menjadi 10 kali tarwih. Apalagi jika  ditambah dengan tiga rakaat witir yang formatnya dua rakaat plus satu. Itu berarti tarawih manjadi 12 kali. 

"Karena itulah salat ini dinamakan salat tarawih, karena di dalamnya imam memberikan banyak tarawih alias istirahat di setiap selesai salam," katanya.

Dasar Salat Tarawih 8 Rakaat

Salat tarawih dapat dikerjakan dengan jumlah bilangan 8 rakaat dan diakhiri salat witir 3 rakaat. Dalam menyelenggarakannya pun ada dua cara. Yaitu 4 rakaat satu salam atau 2 rakaat satu salam.

Berdasarkan keterangan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, jumlah rakaat salat tarawih 4 rakaat satu salam dan 2 rakaat satu salam merupakan tanawuk dalam beribadah, sehingga keduanya dapat diamalkan.

Salat Tarawih 4 Rakaat Sekali Salam

Salat tarawih 4 rakaat satu salam dilakukan dengan cara mengerjakan 4 rakaat salat tarawih ditutup dengan salam, kemudian 4 rakaat salat tarawih lagi dan ditutup dengan salam.

Selanjutnya, mengerjakan salat witir 3 rakaat sebagai penutup. Mengerjakan salat tarawih 4 rakaat satu salam, didasarkan pada hadis riwayat Bukhari, dari Abī Salamah Ibn ‘Abd ar-Raḥmān yang bertanya kepada Ā’isyah mengenai tata cara salat Rasulullah pad Ramadhan.

A’isyah menjawab, "Nabi saw tidak pernah melakukan salat sunat di bulan Ramadan dan bulan lainnya lebih dari 11 rakaat. Beliau salat 4 rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau salat lagi 4 rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau salat 3 rakaat (H.R. Bukharī).

Salat Tarawih 2 Rakaat Sekali Salam

Cara kedua salat tarawih 8 rakaat adalah 2 rakaat sekali salam. Maksudnya adalah menyelenggarakan salat tarawih 2 rakaat ditutup satu salam sebanyak empat kali.

Secara terperinci yaitu 2 rakaat, 2 rakaat, 2 rakaat, dan 2 rakaat. Kemudian dilanjutkan tiga rakaat salat witir dengan cara 2 rakaat dan 1 rakaat. Salat tarawih dua rakaat satu salam sendiri disandarkan pada riwayat al-Bukhārī, bahwa Aisyah berkata,

"Pernah Rasulullah saw melakukan salat pada waktu antara setelah selesai Isya yang dikenal orang dengan ‘Atamah hingga Subuh sebanyak 11 rakaat, beliau salam pada tiap-tiap 2 rakaat, dan beliau salat witir 1 rakaat (H.R. Muslim).

Tata Cara Salat Tarawih 8 Rakaat

Mengenai tata cara salat tarawih 8 rakaat, secara umum sama dengan salat sunah yang lainnya. Yang membedakan adalah cara yang dipakainya dalam menyelenggarakan salat tarawih tersebut, apakah memakai sistem 4 rakaat satu salam atau 2 rakaat satu salam.

Tata Cara Salat Tarawih 4 Rakaat 1 Salam

Tata cara salat tarawih 4 rakaat satu salam adalah sebagai berikut:

  1. Mengucapkan niat salat tarawih sesuai dengan posisinya, sebagai imam atau makmum
  2. Niat di dalam hati ketika takbiratul ihram
  3. Mengucap takbir saat takbiratul ihram
  4. Membaca Surat Al-Fatihah dan kemudian membaca salah satu surat dalam Al-Qur'an
  5. Rukuk
  6. Itidal Sujud pertama
  7. Duduk di antara dua sujud Sujud kedua
  8. Duduk istirahat atau duduk sejenak sebelum bangkit untuk mengerjakan rakaat kedua
  9. Bangkit dari duduk, lalu mengerjakan rakaat kedua hingga rakaat keempat dengan gerakan yang sama seperti rakaat pertama (mulai dari membaca Al-Fatihah hingga sujud kedua)
  10. Duduk tasyahud akhir dan salam pada rakaat kempat.

Tata Cara Salat Tarawih 2 Rakaat 1 Salam

Tata cara salat tarawih dua rakaat satu salam, urut-urutannya seperti di bawah ini:

  1. Mengucapkan niat salat tarawih sesuai dengan posisinya, sebagai imam atau makmum
  2. Niat di dalam hati ketika takbiratul ihram
  3. Mengucap takbir saat takbiratul ihram
    1. Membaca Surat Al-Fatihah dan kemudian membaca salah satu surat dalam Al-Qur'an
  4. Rukuk
  5. Itidal
  6. Sujud pertama
  7. Duduk di antara dua sujud
  8. sujud kedua
  9. Duduk istirahat atau duduk sejenak sebelum bangkit untuk mengerjakan rakaat kedua
  10. Bangkit dari duduk, lalu mengerjakan rakaat kedua dengan gerakan yang sama seperti rakaat pertama (mulai dari membaca Al-Fatihah hingga sujud kedua)
  11. Duduk tasyahud akhir dan salam pada rakaat kedua. (Dilakukan sebanyak empat kali hingga mencapai total sejumlah delapan rakaat).
  12. Doa Setelah Witir Salat tarawih dilanjutkan dengan salat witir sebanyak tiga rakaat.

Doa Setelah Sholat Tarawih

Berikut ini adalah doa kamilin yang lazim dibaca para ulama selepas salat tarawih.

Allahummaj'alna bil imani kamilin. Wa lil faroidlimuaddin. Wa lish-sholati hafidhin. Wa liz-zakati fa'ilin. Wa lima ‘indakatthalibin.

Wa li ‘afwika rojin. Wa bil-huda mutamassikin. Wa ‘anil laghwi mu‘ridlin. Wa fid-dunya zahdin. Wa fil ‘akhirati raghibin. Wa bil-qodlo’I rodlin.

Wa lin na‘ma’I syakirin. Wa ‘alal bala’i shobirin. Wa tahta liwa’i muhammadin shallallahu ‘alaihi wasallam yaumal qiyamati sa’irîna wa 'alal haudli waridîn.

Wa ilal jannati dakhilin. Wa minannarinajin. Wa'ala sariirlkaromati qo'idin. Wa bi hurun'in mutazawwijin. Wa min sundusin wa istabraqin wadibajin mutalabbisin.

Wa min tha‘amil jannati akilin. Wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syariban. Bi akwabin wa abariqa wa ka‘sin min ma‘în.

Ma‘al ladzîna an‘amta ‘alaihim minannabiyyina washshiddîqana wasysyuhada’i wasshâlihîna wahasuna ula’ika rafîqan. Dalikal fadl-lu minallahi wa kafa billahi ‘alaman.

Allahummaj‘alna fi hadzihil lailatisysyahrisy syarafail mubarakah minas su‘ada’il maqbulin. Wa la taj‘alna minal asyqiya’il mardudin. Wa shollallahu ‘ala sayyidina muhammadin wa'ala alihi wa shahbihi ajma‘in. Birahmatika ya arhamarrahimin walhamdulillahirabbil‘alamîn.

Artinya,

“Yaa Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang memenuhi kewajiban-kewajiban, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat, yang ridha dengan qadla-Mu (ketentuan-Mu),

Yang mensyukuri nikmat, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, yang mengunjungi telaga (Nabi Muhammad), yang masuk ke dalam surga, yang selamat dari api neraka.

Yang duduk di atas ranjang kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui.

Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini termasuk orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kami Muhammad, serta seluruh keluarga dan shahabat beliau.

Berkat rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (Lihat Sayyid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta).

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar