Apakah PRT Berhak Meminta / Mendapatkan THR ? Bagaimana Cara Menghitungnya ?

  Selasa, 20 April 2021   Andres Fatubun
Ilustrasi pekerjaan rumah tangga. (Steve Buissinne dari Pixabay)

SURABAYA, AYOSURABAYA.COM -- Jelang pembagian Tunjangan Hari Rata (THR) keagamaan, muncul pertanyaan apakah Pekerja Rumah Tangga (PRT) berhak mendapatkannya?

Sering kali PRT yang sudah bekerja pada sebuah keluarga hingga beberapa generasi tak pernah atau jarang mendapatkan THR. Posisinya yang "lebih lemah" dari majikan membuat mereka takut untuk bertanya. 

PRT Berhak Mendapatkan THR 

Menurut pakar hukum ketenagakerjaan, Hemasari Dharmabumi, mengutip Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 2 Tahun 2015 Tentang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga, dijelaskan PRT mempunyai sembilan hak yaitu:

1. memperoleh informasi mengenai Pengguna;
2. mendapatkan perlakuan yang baik dari Pengguna dan anggota keluarganya;
3. mendapatkan upah sesuai Perjanjian Kerja;
4. mendapatkan makanan dan minuman yang sehat;
5. mendapatkan waktu istirahat yang cukup;
6. mendapatkan hak cuti sesuai dengan kesepakatan;
7. mendapatkan kesempatan melakukan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya;
8. mendapatkan tunjangan hari raya (“THR”); dan
9. berkomunikasi dengan keluarganya.

"Disebutkan bahwa salah satu kewajiban dari Pengguna PRT adalah memberikan THR sekali dalam setahun," katanya. 

Hubungan Majikan dengan PRT

AYO BACA : Panduan Agar Insentif Kartu Prakerja Gelombang 15 Cair

Hemasari menjelaskan mengenai hubungan antara majikan dengan PRT bahwa terdapat beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam hubungan kerja. Definisi dari hubungan kerja menurut Pasal 1 angka 15 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (“UU Ketenagakerjaan”) adalah sebagai berikut:

Hubungan kerja adalah hubungan antara Pemberi Kerja dengan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja, yang mempunyai unsur pekerjaan, upah, dan perintah.

Sedangkan pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.

Pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.

Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan.

AYO BACA : Peserta Prakerja Gelombang 15 Masih Bisa Dicoret dan Dialihkan ke Gelombang 17

Dari penjelasan di atas, pada dasarnya dalam hubungan kerja harus mempunyai unsur pekerjaan, upah, dan perintah. Apabila dalam hubungan antara PRT dengan pemberi kerja terdapat unsur pekerjaan, upah, dan perintah yang didasarkan pada perjanjian kerja, maka hubungan tersebut dapat dikategorikan sebagai hubungan kerja upahan.

Penghitungan THR untuk PRT

Lalu jika berhak mendapatkan THR, bagaimana cara penghitungannya.

Hemasari mengatakan besaran THR untuk PRT menggunakan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan. Permenaker 6/2016 mengatur bahwa pengusaha wajib memberikan THR kepada pekerja yang telah mempunyai masa kerja 1 (satu) bulan secara terus menerus atau lebih.

Pasal 2 Permenaker 6/2016 menyebutkan bahwa cara menghitung THR karyawan bergantung pada masa kerja karyawan, yaitu:
(1) Karyawan yang telah mempunyai masa kerja 12 (dua belas) bulan secara terus menerus atau lebih, diberikan THR sebesar 1 (satu) bulan upah;
(2) Karyawan yang mempunyai masa kerja 1 (satu) bulan secara terus menerus tetapi kurang dari 12 (dua belas) bulan, diberikan THR secara proporsional sesuai masa kerja dengan perhitungan.

Contoh Perhitungan THR untuk PRT

Dewi adalah seorang PRT di sebuah keluarga dengan masa kerja 25 bulan dan gaji pokok per bulan Rp2juta. Maka saat Idul Fitri, ia berhak mendapatkan THR sebesar Rp2 juta. 

Sementara kawann PRT di tetangganya, Wida, baru bekerja di sebuah keluarga selama 2 bulan dan gaji pokok Rp1.500.000. Maka perhitungan THR Wida adalah:
(2 bulan x Rp1.500.000) ÷ 12 bulan = Rp250.000.

 

AYO BACA : Mimpi Basah Hingga Air Mani Keluar, Apakah Membatalkan Puasa?

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar