Ustaz Abdul Somad Jelaskan soal Imam Bertato Menjalankan Salat

  Selasa, 20 April 2021   Andres Fatubun
Ilustrasi proa bertato. (StockSnap dari Pixabay )

JAKARTA, AYOSURABAYA.COM -- Tato merupakan gambar atau lukisan yang sengaja dibuat pada permukaan kulit tubuh. Apakah seorang imam bertato yang menjalankan salat dikatakan sah. Ustaz Abdul Somad menjawabnya

Bagi sebagian kalangan, tato mungkin telah menjadi salah satu tren atau gaya hidup. Walaupun demikian, sebagian yang lain justru menilainya sebagai sesuatu yang tabu.

Pada zaman sekarang, tato tidak hanya populer di tengah kaum pria. Kaum hawa pun tampak ada yang memakai tato. Menurut ajaran Islam, hukum bertato adalah haram.

Dalam sebuah hadits sahih, Nabi Muhammad SAW memperingatkan kaum Muslimin agar tidak menato tubuh mereka. Sebab, hal itu berarti mengubah ciptaan Allah SWT. 

AYO BACA : Peserta Prakerja Gelombang 15 Masih Bisa Dicoret dan Dialihkan ke Gelombang 17

عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: لعن الله الواشمات والمستوشمات، والنامصات والمتنمصات، والمتفلجات للحسن، المغيرات خلق الله

"Allah melaknat wanita yang menato dan wanita yang meminta ditato, yang mencukur alis dan yang meminta dicukur alisnya, serta yang merenggangkan giginya untuk kecantikan, yang mengubah ciptaan Allah," sabda Rasulullah SAW, yang diriwayatkan dari Imam Bukhari.

Ustaz Abdul Somad (UAS) menjelaskan, bangsa Arab dahulu mengenal tato sebagai kahal. Itu adalah celak yang dimasukkan ke dalam kulit yang telah dilubangi. Prinsipnya tidak jauh berlainan dengan tato pada zaman sekarang.

Perbedaannya hanyalah pada metode untuk memasukkan cairan berwarna ke dalam permukaan kulit. Umumnya, tato dipakai kaum muda yang ingin berpenampilan mencolok atau dipandang keren. Padahal, dia menambahkan, mereka toh pada akhirnya akan menua. Tato yang terdapat pada tubuhnya pun akan menimbulkan kesan yang sangat berbeda daripada sebelumnya.

AYO BACA : Mimpi Basah Hingga Air Mani Keluar, Apakah Membatalkan Puasa?

"(Tato) terlihat mantap ketika masih muda dan tegap. Sebelah kiri, tatonya gambar kobra. Setelah tua, terkena diabetes, tatonya mengerut jadi gambar cacing pita. Sebelah kanan, tatonya gambar burung elang yang mau mencengkeram mangsa. Setelah tua, karena sudah kurus, keriput, menjadi gambar burung puyuh," kata UAS, seperti dikutip dalam buku Umat Bertanya, Ustadz Somad Menjawab (2020).

Bagaimanapun, tak sedikit Muslimin yang bertato menyesali perbuatannya. Sesudah bertobat, mereka boleh jadi ingin menghilangkan tato pada tubuhnya. Menurut UAS, upaya tersebut boleh dilakukan selama tidak membahayakan diri mereka.

"Apakah setelah tobat, dia perlu menyetrika tatonya agar hilang? Saudara-saudaraku yang sudah bertato, tidak perlu menyetrika tatonya," ujar alumnus Universitas al-Azhar itu menegaskan.

Kadang kala, kekhawatiran muncul dari mereka yang bertato bahwa shalatnya tidak sah. Sapuan air wudhu dinilai tidak sampai pada permukaan kulit yang tertutup warna tato. UAS mengatakan, mereka tidak perlu khawatir karena air wudhu dapat membasahi kulit yang terhalang tato. Dengan demikian, shalat mereka insya Allah diterima oleh-Nya.

"Wudhunya sah, airnya bisa masuk. Sudah dikaji oleh para ulama, tidak perlu membuang tatonya," ucap UAS. "Jadi, jika ada imam (shalat) pakai tato, sudahlah. Jangan hal itu dipermasalahkan. Shalatnya tetap sah," ujar lulusan program doktoral di Omdurman Islamic University (OIU), Sudan, itu. 

AYO BACA : Apakah PRT Berhak Meminta / Mendapatkan THR ? Bagaimana Cara Menghitungnya ?

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar