Ibu Hamil & Menyusui Boleh Puasa? Ini Penjelasan Medis & Syarat-syaratnya

  Kamis, 22 April 2021   Praditya Fauzi Rahman
Ibu Hamil & Menyusui Boleh Puasa? Ini Penjelasan Medis & Syarat-syaratnya. (Pixabay)

WONOCOLO, AYOSURABAYA.COM – Apakah ibu hamil boleh puasa? Bagaimana pandangan secara medis mengenai persoalan ini?

Masyarakat yang memiliki penyakit tertentu dianjurkan untuk tidak melakukan puasa Ramadan. Pun dengan para ibu hamil dan menyusui.

Ibu hamil memiliki 2 pilihan ketika memasuki bulan Ramadan, tetap melakoni puasa atau tidak. Kerap kali ibu khawatir janin di kandungannya. Lalu, bagaimana solusinya?

Dosen S1 Kebidanan Unusa Nanik Handayani mengatakan, ada tips khusus bagi ibu hamil yang memutuskan berpuasa selama Ramadan 2021. Dalam sudut pandang kesehatan atau medis, menurutnya ibu hamil diperbolehkan puasa jika memenuhi syarat.

Syarat Ibu Hamil Puasa Ramadan

Berikut ini syarat yang kudu dimiliki ibu hamil dan menyusui saat akan puasa Ramadan:

  1. Kondisi ibu dan janin dalam keadaan baik
  2. Ibu diwajibkan memiliki tekanan darah normal
  3. Tak mengalami anemia
  4. Berat janin sudah sesuai.

Bila memenuhi syarat tersebut, maka ibu hamil bisa turut serta menjalankan ibadah puasa.

"Syarat-syarat tersebut harus (terpenuhi). Sehingga, lebih aman bagi ibu yang sedang hamil," kata Nanik saat dikonfirmasi, Kamis (22/4/2021).

Namun, bila sang ibu khawatir atau tak kuat berpuasa, maka tidak perlu dipaksakan untuk menjalankan ibadah puasa. Nanik juga menganjurkan ibu hamil harus mencukupi kebutuhan cairan tubuh, terlebih saat cuaca panas.

Umumnya, kebutuhan air putih minimal 8 gelas per hari, 4 gelas saat sahur, dan 4 gelas ketika berbuka puasa. Lalu, hindari minuman dingin yang dapat mengurangi kerja lambung dan mengakibatkan mudah mual.

“Konsumsi makanan bergizi ketika sahur dan berbuka, untuk mencukupi kebutuhan janin dan menjaga kesehatan ibu saat berpuasa," tuturnya.

Selain makanan, istirahat yang cukup juga sangat diperlukan. Begitu juga dengan aktivitas yang terlalu berat, supaya tak dilakukan secara berulang kali. Bahkan, jadwal kontrol kehamilan harus tetap dilakukan untuk memantau perkembangan bayi.

“Yang pasti, kesehatan ibu dan janin harus diutamakan. Saya berharap ibu hamil bisa menjaga kesehatan janinnya serta tetap bisa menjalankan ibadah puasa dengan lancar," ujarnya.

Nanik menjelaskan, ibu hamil juga memerlukan asupan nutrisi, vitamin, dan gizi lainnya melalui makanan tambahan, seperti buah, sayur hingga makanan yang mengandung protein lainnya.

Untuk porsinya, disarankan makan dengan porsi yang sedikit, namun sering dilakukan daripada sekali makan tapi terlalu banyak.

Adapun makanan pedas dan berlemak juga tidak dianjurkan kepada ibu hamil. Lantaran bisa mempengaruhi perubahan hormon, menimbulkan rasa mulas, sampai memicu rasa mual dan muntah. Pun dengan sistem kekebalan tubuh serta kesehatan ibu dan bayi dalam kandungan juga terpengaruh.

“Mengonsumsi vitamin yang didapat dari Dokter atau Bidan wajib tetap diminum. Minum susu khusus ibu hamil, hal ini untuk menjaga perkembangan janin dan mengurangi risiko anemia pada ibu hamil," tuturnya.

Daftar 4 Orang yang Boleh Tidak Puasa dari Sisi Agama

Terdapat 4 kategori orang yang boleh tidak puasa Ramadan dalam Islam. Berikut ini daftarnya:

1. Orang sakit

Seorang muslim yang sedang sakit boleh tidak puasa Ramadan jika mengalami kondisi berikut:

a.  Jika ia masih mampu berpuasa tanpa kesukaran, maka ia lebih baik berpuasa; tetapi kalau ia tidak mampu, lebih baik ia berbuka.

b.  Kalau dia masih ada harapan sembuh dari sakitnya, maka dia bersabar menunggu sampai dia sembuh, lalu membayar (qada) sebanyak puasa yang ditinggalkannya.

Namun, jika tidak ada harapan akan kesembuhannya, maka dia boleh buka puasa dan membayar fidyah dengan secupak bahan makanan yang diberikan kepada orang miskin sesuai dengan jumlah hari puasa yang ditinggalkannya.

2. Musafir

Orang yang sedang melakukan perjalanan (musafir) sejauh yang dibolehkan mengkasar salat, dibolehkan tidak puasa. Setelah kembali dari perjalanannya, dia akan membayar (qada) puasa yang ditinggalkannya pada hari di luar bulan Ramadan.

Firman Allah di dalam Alquran, "Maka, jika di antara kamu ada yang sakit, atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain." (QS. Al Baqarah: 184).

Jika musafir itu dapat berpuasa dalam perjalanannya adalah lebih baik daripada tidak berpuasa, sebagaimana Firman Allah SWT, "Dan berpuasa lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahui." (QS. Al Baqarah: 155).

3. Orang yang sangat Tua dan Pekerja Berat

Orang yang sudah lanjut usia, baik laki-laki, maupun perempuan, diperbolehkan tidak berpuasa jika mereka tidak mampu puasa. Begitu pun orang-orang yang bekerja berat sebagai mata pencahariannya, seperti orang-orang yang bekerja di dalam pertambangan, atau orang-orang yang telah dihukum dengan kerja paksa, sehingga sulit sekali melakukan puasa.

Mereka semuanya dapat mengganti hari-hari puasa mereka dengan fidyah, sebagaimana firman Allah SWT, "Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa), membayar (yaitu), memberi makan seorang miskin." (QS. Albaqarah: 184).

4.  Perempuan yang Hamil dan yang Menyusui

Perempuan yang sedang hamil atau menyusui, dibolehkan tidak berpuasa. Hanya di dalam pelaksanaannya terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Menurut Ibnu Umar dan Ibnu Abbas RA, apabila perempuan hamil dan perempuan yang menyusui khawatir atas dirinya dan anaknya, maka keduanya boleh berbuka, dan wajib memberi fidyah. Dia tidak mengkada puasa yang telah ditinggalkannya.

Menurut Imam Syafi'i dan Imam Ahmad, jika keduanya hanya khawatir atas anaknya saja lalu dia berbuka, maka keduanya wajib qada dan fideyah. Jika keduanya khawatir pada dirinya saja, atau khawatir pada dirinya dan anaknya, maka keduanya wajib fideyah saja, tanpa qadha.

Sementara itu, menurut Ulama Hanafiah, dan Abu Ubai, serta Abu Tsaur, perempuan yang hamil dan yang menyusui, hanya wajib qadha, tanpa fidyah. Wallahu'alam, demikian dikutip Republika.

Itulah orang-orang yang dibolehkan tidak puasa Ramadan dalam Islam dan baca juga Jadwal Lengkap Puasa Ramadan, Lebaran, dan Puasa Sunah 2021.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar