Polrestabes Surabaya Akan Sikat Debt Collector yang Berbuat Kasar

  Selasa, 11 Mei 2021   Praditya Fauzi Rahman
Aksi debt collector yang mengeroyok anggota TNI di Jakarta.

BUBUTAN, AYOSURABAYA.COM - Para debt collector atau jasa penagihan melakukan penghadangan kepada seorang anggota TNI, Serda Nurhadi yang mengendarai mobil Honda Mobilio berwarna putih dengan platnomor B 2638 BZK. Kejadian itu berlangsung di gerbang tol Koja Barat Jakarta Utara, pada Kamis (6/5/2021) lalu.

Lantas, bagaimana bila hal serupa terjadi di Kota Surabaya?

Kepala Kepolisian Resort Kota Besar (Kapolrestabes) Surabaya, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Jhonny Eddizon Isir menegaskan akan menindak tegas apabila terjadi hal serupa di kota pahlawan. Mengingat, kasus tersebut masuk dalam ranah pidana. 

Isir tak menampik, hal yang sama bisa terjadi bahkan pernah terjadi di Surabaya. Umumnya, para lembaga pembiayaan seperti leasing menyewa jasa penagih atau yang dikenal dengan debt collector alias collection kepada konsumen yang molor membayar cicilan. Meski begitu, penagihan dengan cara kekerasan tidak bisa dibenarkan dan bisa ditindak oleh kepolisian.

"Jadi begini, kawan-kawan lembaga pembiayaan ini ketika ada perjanjian fidusia, tapi perjanjian prinsipalnya kan ada, seyogyanya penggunaan tenaga-tenaga penagih atau mengambil barang ini harus disesuaikan, karena penyitaannya juga tidak bisa sembarangan, kalau nanti merugikan konsumen, nah mereka bisa melapor, dan kita bisa menindak," kata Isir saat ditemui, Selasa (11/5/2021).

Untuk mengantisipasi hal itu, Isir mengimbau para lembaga pembiayaan agar terlebih dulu mengedukasi dan memahami konsekuensi apabila suatu konsumen molor membayar kreditnya. Apabila terjadi intimidasi yang menyudutkan konsumen atau bahkan melukai, kemudian konsumen itu melapor ke pihak kepolisian, akan ditindak sesuai pidana.

"Lembaga-lembaga pembiayaan memberi tahu dan harus tau konsekuensinya, yang jelas kalau nanti ada dan dilaporkan, kita akan menindak. Siapa yang menyuruh, berapa biaya, nanti ujung-ujungnya kan ke lembaga pembiayaannya itu. Jadi, ayo kita ikutin prosedur bagaimana proses penyitaan objek fidusia, gitu yang paling penting," ujarnya.

Beberapa waktu lalu, Isir mengaku telah menerima laporan serupa. Menurutnya, laporan tersebut menyebutkan bahwa ada salah seorang warga yang tengah ditagih oleh debt collector.

"Kapan hari itu, ada kejadian yang nagih barangnya dibawa, saya juga sudah minta anggota untuk kesana. Karena, jangan sampai posisi dari konsumen ini tertekan atau bagaimana," tuturnya.

Isir berharap, lembaga pembiayaan ataupun jasa tagih untuk memaklumi kondisi telat membayar yang dilakukan konsumennya. Mengingat, Pandemi Covid-19 telah meluluh lantakan pelbagai sektor di dunia, pun perekonomian warga kota pahlawan.

Kendati demikian, Isir ingin kasus serupa bisa diselesaikan secara musyarawah. Dengan begitu, kedua belah pihak akan memperoleh 'win-win solution' dan tak ada yang dirugikan.

"Artinya begini, kita lagi ditengah pandemi, kawan-kawan yang kredit dan sebagian ini mungkin ada concern untuk menyicil dan sebagainya. Harapannya, ditengah pandemi ini butuh kebijakan untuk melihat kondisi seperti ini. Jadi, kawan-kawan kalau yang bahasanya debt collector, jasa penagih, jasa layanan ambil, dan lain-lain, ayo lebih bijak," kata polisi dengan 3 melati dipundaknya itu 

Secara prinsip, Isir menyatakan tetap mengimbau kepada 2 belah pihak agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Kalaupun terjadi dan ada laporan, tetap akan diproses secara hukum. 

"Kita proses bukan cuma debt collectornya, tapi kita juga menarik keatasnya, kalo ke atasnya kan ada lembaga pembiayaannya," tutupnya.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar