Mengintip Bisnis Jasa Tato Selama Masa Pandemi di Kota Pahlawan

  Minggu, 16 Mei 2021   Praditya Fauzi Rahman
Abed (31) menjadi konsumen seorang tukang tato di Kota Surabaya, Minggu (16/5/2021).
AYO BACA : Ukuran Dokumen dan Tipe File yang Perlu Dipersiapkan untuk Pendaftaran CPNS 2021

AYO BACA : Contoh Surat Lamaran CPNS 2021, Harus Ditulis Tangan

TAMBAKSARI, AYOSURABAYA.COM - Seni lukis kulit atau yang kerap disebut dengan tato masih digemari sejumlah kalangan di Indonesia. Begitu pula di Kota Surabaya. 
 
Meski begitu, mau tak mau seni menggambar kulit menggunakan jarum halus itu harus mengikuti perkembangan zaman. Selama pagebluk misalnya, pemerintah mewajibkan masyarakat menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat. Ternyata, hal itu tak mempengaruhi para pencinta tato untuk berkreasi lantaran mereka juga memiliki standar prokes serupa dengan yang dianjurkan pemerintah.
 
Salah satu pecinta tato, yakni Nana (44) mengaku bahwa suaminya, Ricky (43) kerap menerapkan prokes secara ketat kepada para pelanggannya. Suaminya yang berprofesi sebagai tato artis disebutnya telah hijrah dari Pulau Dewata ke Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta.
 
Menurutnya, selama pandemi Covid-19, dunia pariwisata di Bali tak berjalan dengan baik. Pun dengan bisnis tato. Saking sepinya, jarang ditemui pencinta tato yang berasal dari luar negeri, meskipun masih ada pelanggan dari dalam negeri kendati tak seramai wisatawan dari mancanegara. 
 
Maka dari itu, ia dan suaminya memutuskan untuk hijrah. Nana menilai, salah satu faktor sepinya bisnis tato adalah masih di tutupnya dan pembatasan wisatawan mancanegara yang hendak datang ke Bali.
 
"Sehingga, bisnis di segala bidang menjadi sepi," kata Nana saat dijumpai di kawasan Menganti, Gresik, Jawa Timur (Jatim). Minggu (16/5/2021).
 
Akibat melemahnya perekonomian di Bali dan menjaga stabilitas ekonomi keluarga, Nana mengaku bila suaminya rela meninggalkan ia dan anak-anaknya untuk sementara waktu dan hijrah ke Jakarta. Mengingat, bisnis gambar menggambar anggota tubuh manusia itu tak bergairah seperti sebelum pandemi Covid-19.
 
Nana berkisah, sudah 2 bulan belakangan suaminya hijrah ke DKI Jakarta bersama sejumlah rekannya. Disana, mereka menyewa sebuah apartemen untuk dijadikan sebuah studio tato bernama Two Guns di Jakarta. Ia bersyukur, pendapatan suaminya di Jakarta jauh lebih baik dibanding di Pulau Dewata belakangan ini.
 
"Alhamdulillah, minimal dalam satu minggu, suami saya dapat pelanggan tato di Jakarta. Di Jakarta lumayan baik daripada di Surabaya dan Bali," tutur wanita asal Surabaya yang saat ini berdomisili di Bali itu.
 
Senada dengan keinginan masyarakat lain, Nana berharap pandemi Covid-19 segera usai. Sehingga, perekonomian dunia khususnya di Indonesia bisa kembali normal.
 
"Kalau sudah normal dari Covid-19, suami saya pasti kembali lagi ke Bali dan berkumpul lagi dengan keluarga," ujarnya
 
Terpisah, salah seorang pecinta tato di Surabaya, yaitu Abed (31) mengatakan, kondisi pertatoan di kota pahlawan tak berdampak signifikan di masa pandemi Covid-19. Menurut dia, tukang tato atau tato artis berkerja sesuai tolok ukur jasa mereka. Disisi lain, pencinta tato melakukan kesenangan dengan mengamini tubuhnya untuk dilukis.
 
"Hampir kurang 2 tahun selama pandemi Covid-19 sudah menato 2 kali bagian tubuh saya, di paha dan dada," ujar Abed, Minggu (2/5/2021).
 
Pria yang tinggal di kawasan Ploso, Tambaksari, Surabaya itu mengaku tak mengetahui secara detil berapa biaya yang sudah dikeluarkan demi sebuah gambar sedari ia menato tubuhnya. Abed menyatakan bahwa karya seni tak bisa diukur dengan rupiah sekalipun.
 
"Tato merupakan seni yang tak bisa diukur dengan rupiah, kalau harga tato saya tidak bisa ngomong," katanya.
 
Menurutnya, geliat tato di Kota Surabaya relatif ramai peminat selama pagebluk bila dibandingkan dengan daerah Bali. Apabila dijajarkan dengan Jakarta, Abed menyebut pertatoan di Ibu Kota Indonesia memang lebih ramai.
 
Abed pun mengapresiasi kinerja para pelakon tato di Indonesia. Sebab, selama menjamu pelanggan, tukang tato menerapkan prokes yang sangat ketat, pun dengan penggunaan alat-alat untuk melukis tubuh pelanggannya.
 
"Saya tidak datang ke studio tato, tapi (ditato) di dalam hotel, ditemani anak dan istri saya. Pada saat 2 kali tato, tetap menerapkan prokes, minimal tempatnya bersih dan steril," tutup pewarta media swasta lokal di Surabaya itu.

AYO BACA : Viral: Kendaraan Diputarbalikkan, Seorang Ibu Maki Petugas dengan Kata Binatang

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar