Cara Pelihara Kesehatan Jantung Selama Pandemi Covid-19

  Rabu, 16 Juni 2021   Nur Khansa Ranawati
Ilustrasi kesehatan jantung (Pixabay)

SURABAYA, AYOSURABAYA.COM -- Mengendalikan faktor risiko penyakit jantung menjadi hal yang penting untuk dilakukan, terutama di masa pandemi Covid-19. Hal tersebut karena penyakit jantung merupakan penyakit dengan komplikasi serius dan salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

Dilansir dari Suara.com, Rabu 16 Juni 2021, data Kementerian Kesehatan mengungkap, angka prevalensi kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) selama 2013-2018 meningkat sampai 34 persen di Indonesia. Jenis PTM ada banyak, sebagai contoh, stroke, diabetes, hipertensi, rematik, asma, alergi, depresi.

Sejak tahun 2015, data juga menunjukkan bahwa empat penyakit teratas penyebab kecacatan, kesakitan dan kematian adalah stroke, penyakit jantung iskemik, kanker dan diabetes mellitus (DM).

Bahkan, data terakhir dari litbangkes juga menunjukkan hal serupa yaitu 60 persen penyebab kesakitan dan kematian di Indonesia disebabkan oleh PTM.

Empat dari lima penyebab kematian terbanyak di Indonesia saat ini adalah penyakit tidak menular, salah satunya adalah penyakit jantung koroner yaitu mencapai sekitar 12,9 persen.

Penyakit jantung sendiri terdiri atas berbagai jenis dan faktor penyebabnya. Jenis penyakit jantung yang sering ditemukan di masyarakat meliputi penyakit jantung koroner, gagal jantung, gangguan irama jantung (aritmia), dan penyakit katup jantung.

"Biasanya penyakit jantung dipicu oleh sejumlah penyebab yang meliputi faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi atau diubah (jenis kelamin, usia, genetik, riwayat keluarga) dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi terkait gaya hidup yang kurang sehat, “ tutur dr Perhentian Ginting Sp.JP.FIHA., dalam keterangannya. 

Ia melanjutkan, cara mengurangi resiko penyakit jantung yaitu dengan melakukan gaya hidup sehat seperti : makan dan minum yang menyehatkan, olahraga teratur dengan intensitas yang cukup (tidak berlebihan) dan menghindari rokok, perokok aktif maupun pasif, (sesuai rekomendasi WHO pada world heart day 2020) dan deteksi dini secara periodik melalui skrining jantung. 

"Deteksi dini efektif mengurangi resiko terkena gejala serangan jantung dan menghindari mahalnya biaya pengobatan," ungkapnya. 

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar