BNI Akan Ganti Uang Nasabah Jika Saldonya Terbukti Berkurang Akibat Skimming

  Senin, 21 Juni 2021   Praditya Fauzi Rahman
ATM BNI.

GRESIK, AYOSURABAYA.COM -- Humas BNI Kantor Wilayah Gresik, Mohammad Gusti angkat bicara perihal dugaan kasus skimming yang dialami nasabahnya pada sebuah mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di kawasan Gresik Kota Baru hari Senin (14/6/2021) dan Rabu (16/6/2021) lalu.

Gusti mengaku pihaknya telah mengetahui adanya dugaan kasus skimming tersebut. Usai menyampaikan keprihatinannya, ia mengimbau kepada nasabah yang mengalami kehilangan dana setelah bertransaksi di ATM tersebut untuk melapor ke kantor cabang BNI terdekat.

"Selanjutnya kami juga akan melakukan penelitian atas laporan nasabah tersebut untuk membuktikan terjadinya skimming," kata Gusti, Senin (21/6/2021).

Apabila hilangnya dana nasabah tersebut terbukti akibat skimming, Gusti memastikan BNI akan melakukan penggantian terhadap dana yang hilang secara penuh tanpa ada potongan biaya administrasi.

Gusti menyarankan, para nasabah untuk melakukan penggantian pin ATM secara berkala. Hal tersebut bertujuan untuk mengantisipasi hal serupa terulang kembali.

"Kami juga mengimbau agar nasabah secara rutin mengganti pin ATM demi mengantisipasi terjadinya skimming, karena pelaku skimming senantiasa merubah lokasi," ujarnya.

Gusti menyebutkan, durasi maksimal pelaporan pasca kejadian adalah H+1. Apabila terkendala tanggal hari libur atau tanggal merah, nasabah dianjurkan menghubungi layanan BNI Call Center di 1500046.

AYO BACA : Ratusan Warga Madura Datangi Kantor Pemkot Surabaya Minta Tes Swab Dihentikan

"Kita lakukan penelitian. Apabila terbukti (skimming), BNI akan melakukan penggantian terhadap dana yang hilang, intinya sesuai tuntutan pelapor," tuturnya.

Nasabah BNI Kehilangan Belasan Juta Rupiah 

Diberitakan sebelumnya, kasus dugaan skimming jadi perbincangan di media sosial dan viral melalui unggahan media sosial Instagram dengan nama akun @Infogresik. 

Dalam postingan tersebut, ada beberapa nasabah BNI yang mengeluhkan saldo di ATM tiba-tiba raib. Anehnya, mayoritas nasabah yang menjadi korban usai melakukan transaksi di gerai ATM kawasan Gresik Kota Baru (GKB), salah satunya adalah Nisfu Syabanah yang mengaku sudah melakukan transaksi di ATM BNI di kawasan GKB pada Senin (14/6/2021) lalu. Ketika hendak bertransaksi melalui mobile banking pada Jumat (18/6/2021), ia terkejut lantaran saldo yang diklaimnya masih ada puluhan juta rupiah tiba-tiba hilang. 

Awalnya, ia mengira bahwa kartu ATM miliknya raib dicuri orang. Namun, saat di kroscek, kartu ATM masih tersimpan di dompet. Lalu, dia mengkroscek kembali melalui m-banking. Dalam notifikasinya, ada sebuah penarikan dengan lokasi di kawasan Denpasar Bali. 

"Jumat malam, ada tarik tunai berjuta-juta. Aku kira ATM dicuri orang, ternyata bukan. Setelah tanya ke pihak bank katanya ATM ku di-skimming," ujar dia, Minggu (20/6/2021) kemarin.

Korban lain adalah Ahmad Arif yang mengaku kehilangan uang senilai Rp 15 juta. Ia juga mengaku sempat bertransaksi di gerai ATM kawasan GKB usai transaksi sekitar 16 Juni dan ditarik dari Denpasar pada tanggal 18 Juni 2021.

Kasus Skimming Sudah Lama Terjadi

Sementara itu, Pakar Informasi dan Teknologi Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Surabaya, Supangat mengatakan, metode skimming kerap digunakan orang yang tidak bertanggungjawab untuk memperkaya diri dengan cara ilegal dan melanggar hukum.

AYO BACA : Cara Mengatasi Notifikasi WhatsApp yang Sering Telat dan Melihat Pesan yang Dihapus Pengirim

Supangat menjelaskan, skimming merupakan suatu tindakan pencurian informasi kartu kredit atau debit dengan cara menyalin informasi yang terdapat pada strip magnetik kartu kredit atau debit secara ilegal. Strip magnetik tersebut lah yang menjadi tempat informasi mengenai kartu itu tersimpan. Umumnya, proses skimming dilakukan menggunakan skimmer yang ditempelkan pada slot kartu di mesin ATM yang bentuknya dibuat menyerupai bentuk mulut slot kartu ATM yang sekilas terlihat sama.

"Saat kartu dimasukan ke ATM dan melalui skimmer yang ditempelkan , skimmer akan merekam informasi dari kartu tersebut," kata Supangat saat dikonfirmasi AyoSurabaya.com, Senin (21/6/2021).

Supangat menjelaskan, kasus pengurasan tabungan menggunakan metode skiming sudah berlangsung sejak beberapa waktu silam. Historinya, senada dengan phising. Namun, belum diketahui pasti kapan awal mula terjadi di Jawa Timur (Jatim), terutama di Kabupaten Gresik beberapa waktu lalu.

"Skimming itu sudah lama, sama juga phising, 2 hal itu yang perlu diwaspadai," ujarnya.

Supangat menuturkan, skimming tak hanya mencuri uang semata, tapi juga bisa dikatakan sebagai pencurian data. "Kalau menurut saya, karena pengguna user di bank atau pengelola bank kan sama-sama, karena perkembangan teknologi kan kedua belah pihak (saling terlibat). Bahayanya itu kalau ada skimming dari aspek data yang di share ke pihak pengelola bank atau email bank, itu juga bahaya," tuturnya.

Lantas, apakah ada kemungkinan keterlibatan beberapa pihak dalam kasus tersebut?

"Iya, kan banyak cara to mas, makannya data-data banyak yang bocor-bocor dan dijual ke mana-mana. Kadang-kadang, kerjasamanya kan dari pihak-pihak luar, makannya harus hati-hati. Yang skimming ya menyangkut aktifitas terhadap pita magnetik, nah bobolnya lewat atm, dibobol secara ilegal," katanya.

 

 

 

AYO BACA : Kadin Jatim Nilai SE Wali Kota soal Swab Masuk Surabaya Bebani Perusahaan dan Karyawan

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar