Mengenang Marsinah: Aktivis Buruh di Sidoarjo yang Mati Dibunuh di Era Orde Baru

- Senin, 8 Mei 2023 | 13:25 WIB
Dua orang anggota polisi berjaga di makam pejuang buruh Marsinah di Desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (1/5/2021). (Foto: ANTARA/Prasetia Fauzani)
Dua orang anggota polisi berjaga di makam pejuang buruh Marsinah di Desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (1/5/2021). (Foto: ANTARA/Prasetia Fauzani)

AYOSURABAYA.COM - 8 Mei 1993 lalu, Marsinah, seorang buruh pabrik yang berkerja di PT Catur Putra Surya (PT CPS), Porong, Sidoarjo, Jawa Timur ditemukan mati secara mengenaskan.

Mayat Marsinah diketemukan di sebuah hutan yang berada di dusun Jegong, desa Wilangan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Sekitar 200 Km dari tempatnya bekerja di Sidoarjo.

Marsinah adalah aktivis buruh di zaman Orde Baru, yang kerap kali menyuarakan perjuangan melawan ketidakadilan bagi kaum buruh.

Baca Juga: 6 Bentuk Ketidakadilan Yang Kerap Dialami Kaum Pekerja di Indonesia

Kronologi Kematian Marsinah

Kala itu, 3 Mei 1993 menjadi momen keberanian Marsinah untuk tampil bersuara bersama kawan-kawannya dalam membela hak-hak buruh di pabrik tempat ia bekerja.

Perempuan itu melakukan aksi unjuk rasa menuntut kenaikan upah dari sebelumnya Rp 1.700 menjadi Rp 2.250.

Aksi demonstrasi terpaksa digelar, lantaran PT CPS tidak mau menaikkan upah pekerjanya sesuai imbauan Gubernur Jawa Timur Soelarso saat itu.

Baca Juga: Mahfud MD: Ada yang Baru Keluar dari Penjara sebagai Koruptor, Sudah Berpidato Mengajak Memerangi Koruptor

Padahal, Surat Edaran No 50/1992 telah dikeluarkan oleh Gubernur Jawa Timur, Soelarso, yang berisi imbauan kepada pengusaha agar menaikkan kesejahteraan karyawannya dengan memberikan kenaikan gaji sebesar 20 persen dari gaji pokok.

Alhasil, lantaran tuntutan Marisnah bersama para buruh tidak diindahkan oleh Manajemen PT CPS, mereka kemudian melakukan mogok kerja total pada 4, Mei 1993.

Mereka mengajukan 12 tuntutan kepada pihak PT CPS termasuk meminta tunjangan Rp 550 per hari yang tetap bisa didapatkan ketika buruh absen.

Baca Juga: Eri Cahyadi Ajak Mahasiswa di Surabaya Implementasikan Ideologi Pancasila, Ini Alasannya

Kemudian 5 Mei 1993, sebanyak 13 buruh yang dianggap menghasut aksi unjuk rasa dan mogok kerja digiring ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo.

Mereka dipaksa mengundurkan diri dari PT CPS karena telah menggelar rapat gelap dan menghasut aksi mogok bekerja.

Halaman:

Editor: Setyo Adi Nugroho

Sumber: Kompas, Republika

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Budaya dan UMKM Meriahkan HPN Jabar di Karawang

Sabtu, 20 Mei 2023 | 18:16 WIB
X