Ditengah Melambungnya Harga Cabai Rawit, Petani di Mojokerto Tak Mampu Berbuat Banyak

- Selasa, 28 Juni 2022 | 19:47 WIB
Petani mengais sisa panen cabai rawit di Desa Brayublandong, Kecamatan Dawarblandong, Mojokerto. (SuaraJatim - Zen Arivin)
Petani mengais sisa panen cabai rawit di Desa Brayublandong, Kecamatan Dawarblandong, Mojokerto. (SuaraJatim - Zen Arivin)

 

AYOSURABAYA.COM - Me lambungnya harga komoditas cabai rawit diresahkan oleh sejumlah para petani di Mojokerto.

Pasalnya, mereka mengaku tetap alami kerugian meskipun kenaikan harga cabai rawit dirasakan tidak beriringan dengan musim panen cabai.

Salah satunya Wardi, petani cabai asal Dusun Gangsir, Desa Cinandang, Kecamatan Dwarblandong, Kabupaten Mojokerto ini.

Baca Juga: Daftar Harga Pokok Kota Surabaya Sabtu 25 Juni 2022: Cabai Rawit Beranjak Turun, Daging Merangkak Naik

Wardi yang sudah puluhan tahun menjadi petani cabai ini mengaku tetap mengalami kerugian meskipun harga cabai rawit melonjak drastis belakangan ini.

"Tetap rugi, karena kenaikan harga ini tidak saat panen raya beberapa bulan lalu. Panen terakhir, bulan Februari tapi kenaikan harganya baru pertengahan bulan ini," kata Wardi, seperti dilansir AyoSurabaya.com dari laman Suara pada Selasa, Juni 2022.

Wardi mengungkapkan, pada musim panen raya bulan Februari 2022 lalu, harga cabai rawit di tingkat petani hanya Rp 3.500 perkilogram. Sehingga ia dan banyak petani lainnya yang sengaja membiarkan buah cabainya layu dan membusuk di ladang.

Baca Juga: Bikin Emak-emak Menjerit! Harga Cabai Rawit di Surabaya Rp98.000 per Kilogram

"Ya saya biarkan, karena harga cabai saat panen raya itu cuma Rp 3.500 perkilogram. Tidak cukup untuk balik modal saja," ungkap petani berusia 41 tahun ini.

Halaman:

Editor: Setyo Adi Nugroho

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X