Kuliner Malam Malang: Sego Resek, Masakan Nasi Sampah Legendaris Sejak 1959

- Minggu, 20 Februari 2022 | 09:33 WIB
Penjual  Sego Resek di daerah Kasin, tepatnya Jalan Brigjend Katamso, Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang. (hafidhandriono)
Penjual Sego Resek di daerah Kasin, tepatnya Jalan Brigjend Katamso, Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang. (hafidhandriono)

Sego resek mirip pula dengan nasi mawut khas Jawa Timur-an. Bedanya kuliner malam Malang ini diolah menggunakan kaldu ayam. Memasaknya pun dalam wajan besar menggunakan tungku arang membuat cita rasa khas sego resek semakin diakui.

Satu kali masak sego resek ini bisa sampai 80 hingga 100 porsi. Satu porsi nasi sampah pun dapat dikatakan porsi jumbo.

Baca Juga: Kasus Harian Covid-19 di Surabaya Per 19 Februari Bertambah 2.198 Kasus dan Meninggal Delapan Orang

Di samping kanan kiri penggorengan terdapat macam-macam lauk pauk, seperti telur, ati ampela, kepala ataupun sayap ayam.

Harga standar sego resek mulai dari 10.000 rupiah. Harga akan mengikuti tambahan lauk. Misalnya, tambah telur, harga seporsi nasi sampah menjadi 12.000 rupiah.

Sebenarnya, awal mula nama sego resek bukanlah dari komposisi nasinya yang campur aduk. Namun, lokasinya yang berada berdekatan dengan tempat pembuangan sampah. Awalnya, banyak orang yang tak tertarik mencicipi sego resek karena lokasinya tersebut. Kesan kotor dan jorok tak dapat dihindari.

Baca Juga: Hal yang Sebaiknya Dilakukan Orangtua Bila Anak Mengalami KIPI Usai Divaksin

Seiring berjalannya waktu, konsistensi Tukiman sang pemilik nasi sampah, rasa kuliner yang unik ini semakin digemari. Terlebih, lokasinya yang tak jauh dari lingkungan kampus dan harga yang terjangkau membuat kuliner malam Malang ini semakin digemari penikmat kuliner malam.

Jika ingin mencicipi kuliner malam Malang sego resek, pastikan tidak sedang terburu-buru. Pasalnya, banyak orang rela mengantre untuk mendapatkan nasi sampah unik yang hanya bisa dinikmati ketika berada di Malang.

Ketika hendak menikmati sego resek, disarankan pula untuk datang tepat waktu. Maksudnya, jangan sampai Anda tiba saat nasi telah habis. Ini karena yang datang ke warung sederhana ini tak hanya warga lokal, tapi juga wisatawan yang sedang berkunjung ke Malang.

Halaman:

Editor: Andres Fatubun

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X