Sistem Peringatan Dini Letusan Gunung Berapi Perlu Dimutakhirkan

- Rabu, 15 Desember 2021 | 14:29 WIB
Rumah penduduk dan truk yang tertimbun material letusan Gunung Semeru.  (Fayyadlh AG)
Rumah penduduk dan truk yang tertimbun material letusan Gunung Semeru. (Fayyadlh AG)

BUBUTAN, AYOSURABAYA.COM - Erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada pekan lalu menyebabkan sedikitnya 46 orang tewas.

Hal tersebut menimbulkan pertanyaan bagaimana cara mengetahui peringatan dini lebih detil dan menyelamatkan diri ketika terjadi bencana alam serupa.

Dewan Pakar Kompartemen Kebencanaan IKA ITS, Dr. Ir. Amien Widodo mengatakan, ia bersama sejumlah mahasiswanya langsung terjun kelapangan beserta para peneliti. Menurutnya, Gunung Semeru mengeluarkan awan panas dan banjir lahar.

Untuk awan panas, kecepatan bisa sampai 200 km/jam dan panasnya bisa 100° celcius lebih. Berbeda dengan sifat air pada banjir lahar yang bergerak mengalir mengikuti gravitasi atau menuju ke permukaan yang lebih rendah, awan panas erupsi Semeru bisa melewat belokan, bisa melompat dan terus menerjang, bahkan melebar dari sumbernya.

Baca Juga: Pembangunan Jembatan Gladak Perak dan Pengerukan Aliran Besuk Mendesak

"Terjangan awan panas yang kalau di Jogja (merapi) disebut 'wedus gembel', inilah yang menjadi penyebab banyaknya korban jiwa pada erupsi Semeru kali ini," kata Amien, Rabu (15/12/2021).

Amien menuturkan, hal itu dapat terlihat dari kondisi mayoritas korban yang mengalami luka bakar akibat awan panas. Kendati demikian, ia meyakini bahwa sudah ada peta untuk Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Semeru.

"Ada KRB2 untuk kawasan rawan awan panas dan KRB 1 untuk kawasan rawan luapan lahar. Keduanya sama-sama berbahayanya, perlu kewaspadaan bagi masyarakat yang tinggal di bibir sungai," ujarnya.

Baca Juga: Selebgram Laura Anna Meninggal Dunia

Halaman:

Editor: Andres Fatubun

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X