Demam Piknik dan Klub Piknik di Bandung Tahun 1930-an

- Sabtu, 5 Oktober 2019 | 16:17 WIB
Pemimpin Redaksi Sipatahoenan Bakrie Soeraatmadja berfoto bersama para redaktur koran Pemandangan di persimpangan Bergtuin Tjipanas, dekat Istana Bogor. (Sumber: Sipatahoenan, 16 Agustus 1934)***
Pemimpin Redaksi Sipatahoenan Bakrie Soeraatmadja berfoto bersama para redaktur koran Pemandangan di persimpangan Bergtuin Tjipanas, dekat Istana Bogor. (Sumber: Sipatahoenan, 16 Agustus 1934)***

Di tengah krisis ekonomi dahsyat yang melanda dunia tahun 1930-an, orang-orang Belanda dan bumiputra di Bandung khususnya dan Jawa Barat umumnya malah gemar piknik. Berbagai klub piknik didirikan dengan tujuan perjalanan jauh ke luar Jawa Barat. Tulisan diambil dari sini.

DASAWARSA 1930-AN ADALAH SAAT KRISIS EKONOMI MELANDA DUNIA, termasuk Hindia Belanda. Orang Indonesia menyebut krisis ekonomi besar saat itu dengan frasa Zaman Meleset atau malaise. Mala yang disebut ”the great depression” itu terjadi lantaran ambruknya harga saham di Amerika Serikat sejak 24 Oktober 1929. Kejadian itu menyebabkan efek domino ke seluruh penjuru dunia, hingga 1933. Bahkan hingga 1939, seperti yang terbaca dari judul buku Charles R. Morris, A Rabble of Dead Money: The Great Crash and the Global Depression: 1929-1939 (2017).

Krisis ekonomi dunia itu juga berimbas ke Bandung di Jawa Barat yang jaraknya sekitar 16.000 kilometer dari New York di Amerika Serikat. Akibatnya pengangguran di sana-sini dan berdiri pelbagai lembaga penolong pengangguran.

Anehnya, saat itu malah terjadi demam piknik di Bandung. Berbagai klub atau komunitas piknik muncul bak jamur di musim penghujan. Demamnya tak memedulikan orang Belanda maupun kaum bumiputra. Semuanya suka piknik. Kata-kata yang berkaitan dengan pesiar mengemuka dalam berbagai potongan berita. Kata-kata itu antara lain “excursie”, “picnic”, “musim nyanyabaan”, “lalampahan”, “autobus”, “verzamelplaats”, dan “verzamelpunt”.

Musim piknik di Bandung itu rasa-rasanya seperti anomali. Namun bila melihat tempo demamnya yakni tahun 1934, bisa jadi karena situasi ekonominya sudah normal kembali. Mengingat batas resesi ekonomi dunia itu berakhir pada 1933.

Penelusuran mengenai musim piknik itu memang menarik. Dengan menggunakan pustaka Belanda dan Sunda, saya mendapatkan banyak nama klub atau organisasi pesiar ke luar kota Bandung. Pertama-tama, saya ingin membahas klub piknik yang namanya mirip, yaitu Bandoengsche Excursie-Vereeniging (BEV) dan Bandoengsche Excursie Comite (BEC). Bedanya hanya ujungnya saja. Juga waktu kemunculannya, BEV mulai terekam kegiatannya sejak 1933, sementara BEC pada 1934. Selain BEV dan BEC, ada juga komunitas pelesiran lain.

Klub Piknik Bandoengsche Excursie-Vereeniging

Keterangan mengenai BEV, bisa diperoleh dari koran berbahasa Belanda Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indies sepanjang tahun 1933 hingga 1937. Kegiatan klub ini biasanya diumumkan pada kolom ”Vermakelijkheden”. Di situ biasanya ditampilkan jadwal serta tujuan pelesiran, serta titik kumpulnya. Perjalanannya biasanya dilakukan pada akhir pekan, biasanya Minggu, di awal atau pertengahan bulan. Namun belum jelas kapan organisasi ini didirikan, termasuk siapa pengelolanya.

Sejauh ini yang berhasil ditemukan dari Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indies adalah rencana perjalanannya. Dalam terbitan 15 Juli 1933 misalnya ditulis bahwa BEV menyelenggarakan perjalanan ke Paseh, Leles, Garut, pada 16 Juli 1933 (”16 Juli: Bandoengsche Excursie Vereeniging tocht van Paseh naar Leles”). Pada edisi 28 Juli 1933 pada ruang ”Uit Bandoeng” dikatakan bahwa BEV akan menyelenggarakan perjalanan ke gua-gua di Gunung Pawon, Padalarang, pada 30 Juli 1933.

Halaman:

Editor: Rahim Asyik

Tags

Terkini

Kronologi Perseteruan Pesulap Merah dan Gus Samsudin

Selasa, 2 Agustus 2022 | 23:23 WIB
X