Kondang sebagai Sumber Antioksidan dan Penyerap Gas Beracun

- Minggu, 15 November 2020 | 12:53 WIB
Kondang sebagai Sumber Antioksidan dan Penyerap Gas Beracun
Kondang sebagai Sumber Antioksidan dan Penyerap Gas Beracun

AYOSURABAYA.COM--Ada banyak nama tempat -- entah itu kampung, desa, kelurahan maupun destinasi wisata -- di Jawa Barat yang melibatkan kata ‘kondang’. Ambil contoh, Cikondang, Parakan Kondang serta Leuwi Kondang.

Kondang (Ficus variegata) sendiri adalah sejenis pohon, yang sekarang ini kian jarang kita temukan, terutama di daerah perkotaan. Bahkan mungkin banyak anak zaman now yang belum pernah sama sekali melihat pohon kondang.

Kondang memiliki banyak manfaat. Pohon ini perlu dibudidayakan. Selain untuk menjaga keanekaragaman hayati di negeri ini, juga untuk meningkatkan kualitas lingkungan.

Tinggi pohon kondang bisa mencapai 7 hingga 12 meter. Daunnya besar, berbentuk hati, dengan tangkai daun agak panjang. Daun kondang biasanya memiliki 4-9 pasang urat samping. 

Tangkai daun memiliki panjang sekitar 2 sentimeter dan panjang daun dapat mencapai 14 sentimeter. Daun muda bergerigi dengan jelas. Adapun daun tua memiliki tepi bergelombang. 

Menurut laman plantsoftheworldonline, kondang merupakan tanaman asli (native) bagi kepulauan Andaman, Assam, Bangladesh, Kepulauan Bismark, Borneo, China (bagian tengah dan tenggara), Filipina, Hainan, India, Jawa, Kamboja, Laos, kepulauan Sunda Kecil, Malaysia, Maluku, Myanmar, kepulauan Nansei, New Guinea, kepulauan Nicobar, Queensland, Kepulauan Solomon, Sulawesi, Sumatera, Taiwan, Thailand dan Vietnam.

Kondang dikategorikan sebagai jenis pohon tumbuh cepat (fast growing tree species). Selain itu, ia mempunyai kemampuan tumbuh setelah patah. Pohon ini dapat tumbuh pada tanah yang tidak memiliki tingkat kesuburan tinggi dan mulai berbunga serta berbuah pada umur 2-3 tahun (Riskan Effendi & Nina Mindawati, 2015).

Buah kondang berbentuk bulat dengan permukaan halus atau mirip buah pir tanpa tonjolan longitudinal. Biasanya berkelompok pada tandan dengan panjang tangkai hingga 6 sentimeter. Buah muda berwarna hijau. Saat matang, warna buah berubah menjadi kuning atau merah. Namun, ada juga jenis lain, yaitu yang berwarna merah saat muda dan kemudian menjadi kehijauan saat matang.

Berperan penting

Halaman:

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Terkini

Apa Salahnya Melepas Burung?

Rabu, 10 Februari 2021 | 14:44 WIB

Refreshing Course ala PP Mambaul Ulum Waru

Senin, 28 Desember 2020 | 14:58 WIB

Ini Alasan Orang Keluar dari Grup WhatsApp

Minggu, 27 Desember 2020 | 08:22 WIB

Dokter Waszklewicz dan Sistem Sirkuler Cacar

Kamis, 24 Desember 2020 | 17:30 WIB

Mantri Cacar dan Dokter Jawa

Rabu, 16 Desember 2020 | 11:44 WIB

Pesona Matahari Terbit di Gunung Bromo

Senin, 14 Desember 2020 | 11:22 WIB

Dokter Bowier dan Tabung Termometris

Selasa, 8 Desember 2020 | 12:25 WIB

Radio Di Masa Corona dan ‘Revolusi’ Program

Sabtu, 5 Desember 2020 | 09:23 WIB

Pandemi, SDN Mulyodadi Bikin Buku Antologi Puisi

Kamis, 3 Desember 2020 | 14:24 WIB

Inokulasi Cacar dan Perhimpunan Batavia

Rabu, 2 Desember 2020 | 14:49 WIB

Memahami Sistem Koloid dengan Ular Tangga

Kamis, 26 November 2020 | 10:27 WIB

Gauffre Membawa Vaksin Cacar ke Jawa

Selasa, 24 November 2020 | 13:57 WIB

Mengoptimalkan Gadget untuk Pembelajaran Olahraga Siswa

Selasa, 24 November 2020 | 10:02 WIB

Kelola Emosi Marah Siswa dengan Expressive Writing

Sabtu, 21 November 2020 | 17:19 WIB

Menelusuri Legenda Sarip Tambak Oso

Sabtu, 14 November 2020 | 15:08 WIB

Sejarah Gunung Sunda

Jumat, 13 November 2020 | 10:18 WIB

Buket Buah, Cara Warga Tambaksumur Rayakan Maulid Nabi

Selasa, 10 November 2020 | 13:33 WIB
X