Kelola Emosi Marah Siswa dengan Expressive Writing

- Sabtu, 21 November 2020 | 17:19 WIB
Kelola Emosi Marah Siswa dengan Expressive Writing
Kelola Emosi Marah Siswa dengan Expressive Writing

Dunia anak makin berkembang, di masa pandemi covid-19 ini, tantangan baru bagi semua guru Bimbingan dan Konseling untuk tetap memberikan layanan yang harus tetap diberikan dengan baik kepada siswa dan disesuaikan melalui daring. 

Dampak lain dari pendemi bagi perkembangan diri remaja adalah meningkatnya emosi marah. Selain bosan, ternyata emosi marah ini juga kerap melanda remaja. Seperti keluhan dari beberapa wali murid yang diterima Septya Muti Fadhila, S.Pd., salah seorang guru BK SMAN 2 Sidoarjo yang mengatakan kalau anaknya sering marah-marah tanpa sebab ataupun bila ada sebab sekecil apapun mampu memicu emosi marah.

Sebagai guru BK, Septya tanggap dan upaya yang dilakukan salah satunya adalah memberikan layanan bimbingan kelompok dengan teknik expressive writing untuk mengelola emosi marah. Mengingat, masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak ke masa dewasa. Pada masa remaja banyak perubahan yang bersifat universal. Emosi merupakan salah satu aspek perkembangan yang terdapat pada setiap manusia dan perubahan emosi biasanya semakin cepat selama awal masa remaja. Tuntutan lingkungan mengakibatkan tekanan-tekanan yang mengakibatkan naiknya emosi. Emosi diperlukan untuk membantu manusia agar lebih mudah melakukan adaptasi dengan lingkungan. pentingnya kemampuan mengelola emosi marah dimiliki oleh remaja sebagai upaya peningkatan kemampuan dalam memecahkan masalah, mampu mengelola masalah-masalah psikologis mereka sendiri dan mampu beradaptasi di lingkungan. Oleh karena itu perlunya upaya dalam membantu remaja untuk meningkatkan kemampuan mengelola emosi marah yang dilakukan oleh pihak sekolah. Layanan Bimbingan dan Konseling sebagai salah satu subsistem sekolah yang merupakan jenis kegiatan yang ditunjukan kepada pencapaian perkembangan siswa yang optimal. 

Pemberian bimbingan dan treatment harus disesuaikan dengan kebutuhan. Melihat berbagai permasalahan yang terkait dengan pengelolaan emosi marah pada siswa di sekolah, maka perlu adanya upaya bimbingan dan konseling yang bersifat pengembangan dan pencegahan yang membantu siswa memiliki kemampuan mengelola emosi marah yang baik dan tidak terjerumus pada perilaku yang menyimpang. 

Dalam pemberian layanan Bimbingan dan Konseling secara daring atau tatap maya melalui platfon Google Meet, Septya mencoba memberikan bimbingan kelompok dengan 11 anak siswa kelas X dengan materi mengelola emosi marah mengunakan teknik expressive writing (menulis ekspresif) yang difokuskan pada emosi marah remaja, dan upaya meningkatkan kemampuan mengelola emosi marah tersebut. Kegiatan menulis yang dilakukan adalah menuliskan emosi marah yang kerap muncul, menuliskan pengalaman-pengalaman marah terhadap teman dekat dan yang masih terpendam, menuliskan pemahaman mereka terkait puisi kemarahan yang guru BK berikan, menuliskan cara mereka dalam menghadapi kemarahan mereka. 

Terapi menulis merupakan salah satu teknik yang digunakan di dalam terapi ekspresif. Terkadang ketika emosi marah sulit diungkapkan kepada orang lain atau ketika siswa malu untuk bercerita, tidak berterus terang, dan tidak terbuka menimbulkan sikap yang tidak asertif pada siswa. Harapannya dengan menulis ekspresif siswa akan dapat lebih mudah untuk mengekspresikan diri, mengungkapkan perasaan, menuangkan ide, menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi, maupun masalah yang sedang dialaminya. Sehingga siswa dapat mengekspresikan emosi yang berlebihan (katarsis) dan menurunkan ketegangan, siswa dapat bercerita dengan bebas, terbuka dan dapat mengungkapkan seluruh perasaannya melalui tulisan.

Expressive writing dapat digunakan bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam mengungkapkan emosi marahnya secara verbal, aktivitas menulis akan membantu mereka melepaskan perasaan yang cenderung mereka bawa. Dan bagi siswa yang memiliki kemampuan verbal sangat tinggi, menulis dapat menjaga remaja agar tidak terlalu banyak bicara pada waktu yang tidak tepat. Menulis dapat membantu seseorang mengubah cara menghadapi emosi marah. Dengan menulis seseorang akan melepaskan emosi marah dan tidak menyimpannya atau mewujudkannya dalam tindakan. Jadi emosi marah bukanlah hal yang salah ya, hanya saja kita harus mampu mengungkapkan dengan cara yang tepat. Dan menulis, salah satu diantaranya. Bagaimana dengan Anda?

Yupiter Sulifan, Guru BK SMA Negeri 1 Taman Sidoarjo dan penulis buku Guru BK itu Asyik.

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Terkini

Apa Salahnya Melepas Burung?

Rabu, 10 Februari 2021 | 14:44 WIB

Refreshing Course ala PP Mambaul Ulum Waru

Senin, 28 Desember 2020 | 14:58 WIB

Ini Alasan Orang Keluar dari Grup WhatsApp

Minggu, 27 Desember 2020 | 08:22 WIB

Dokter Waszklewicz dan Sistem Sirkuler Cacar

Kamis, 24 Desember 2020 | 17:30 WIB

Mantri Cacar dan Dokter Jawa

Rabu, 16 Desember 2020 | 11:44 WIB

Pesona Matahari Terbit di Gunung Bromo

Senin, 14 Desember 2020 | 11:22 WIB

Dokter Bowier dan Tabung Termometris

Selasa, 8 Desember 2020 | 12:25 WIB

Radio Di Masa Corona dan ‘Revolusi’ Program

Sabtu, 5 Desember 2020 | 09:23 WIB

Pandemi, SDN Mulyodadi Bikin Buku Antologi Puisi

Kamis, 3 Desember 2020 | 14:24 WIB

Inokulasi Cacar dan Perhimpunan Batavia

Rabu, 2 Desember 2020 | 14:49 WIB

Memahami Sistem Koloid dengan Ular Tangga

Kamis, 26 November 2020 | 10:27 WIB

Gauffre Membawa Vaksin Cacar ke Jawa

Selasa, 24 November 2020 | 13:57 WIB

Mengoptimalkan Gadget untuk Pembelajaran Olahraga Siswa

Selasa, 24 November 2020 | 10:02 WIB

Kelola Emosi Marah Siswa dengan Expressive Writing

Sabtu, 21 November 2020 | 17:19 WIB

Menelusuri Legenda Sarip Tambak Oso

Sabtu, 14 November 2020 | 15:08 WIB

Sejarah Gunung Sunda

Jumat, 13 November 2020 | 10:18 WIB

Buket Buah, Cara Warga Tambaksumur Rayakan Maulid Nabi

Selasa, 10 November 2020 | 13:33 WIB
X