Inokulasi Cacar dan Perhimpunan Batavia

- Rabu, 2 Desember 2020 | 14:49 WIB
Lukisan potret Willem van Hogendorp (1735-1784). Ia adalah orang yang gigih mengampanyekan pentingnya inokulasi di Batavia pada paruh kedua abad ke-18. Sumber: Wikipedia.
Lukisan potret Willem van Hogendorp (1735-1784). Ia adalah orang yang gigih mengampanyekan pentingnya inokulasi di Batavia pada paruh kedua abad ke-18. Sumber: Wikipedia.

Praktik penanganan cacar melalui inokulasi di Belanda telah dilakukan sejak tahun 1748. Informasi ini dapat kita petik dari tulisan Uta Janssens, “Matthieu Maty and the adoption of inoculation for smallpox in Holland” (dalam Bulletin of the History of Medicine Vol. 55, 1981). Di situ antara lain disebutkan bahwa “Inokulasi pertama di Belanda terjadi pada November 1748 selama wabah cacar di Kota Amsterdam. Orang yang melakukannya Theodore Tronchin, dokter Huguenot dari Jenewa, murid Bentley di Cambridge dan Boerhaave di Leiden serta saat itu dia menjabat sebagai presiden Amsterdam College of Physicians”.

Sebagai tambahan, dalam The War against Smallpox: Edward Jenner and the Global Spread of Vaccination (2020: 179) karya Michael Bennett disebutkan pada dasawarsa pertama praktik inokulasi di Inggris, beberapa bangsawan Belanda mengirimkan anak-anaknya ke London untuk diinokulasi. Théodore Tronchin melakukan inokulasi di Amsterdam pada akhir tahun 1740-an dan Charles Chais, pastor geraja Reformasi Prancis di Den Haag mengenyahkan isu negatif inokulasi dan menekankan manfaatnya pada tahun 1754.

Jauh sebelum Uta dan Bennet, Abraham Rees menyatakannya dalam The Cyclopædia, Or, Universal Dictionary of Arts, Sciences, and Literature Vol XIX (1819). Rees menulis bahwa di Belanda, inokulasi dimulai di Amsterdam pada 1748 oleh Dr. Tronchin, yang setelah mendapati satu anak laki-lakinya terkena cacar, cepat-cepat menginokulasi yang lainnya. Dokter ini, setelah kembali dari Jenewa, pada 1754, menginokulasi banyak sekali orang di Belanda. Di halaman lainnya, Rees menyebutkan bahwa praktik inokulasi sudah mulai dilakukan di Inggris sejak April 1721.

Inokulasi adalah proses atau tahap kegiatan pemindahan atau penanaman mikroorganisme, misalnya bakteri atau virus, dari sumber asalnya ke medium baru yang telah disediakan sebelumnya. Maksudnya sebagai bentuk pencegahan terhadap penyakit menular yang disebabkan oleh mikroorganisme tersebut. Praktik ini sudah sejak lama dilakukan untuk menangani cacar, sebagai pendahulu dari vaksinasi yang ditemukan Edward Jenner pada 1796.

Nah, sebelum vaksinasi cacar mulai dilakukan di Belanda, seperti yang saya tulis di awal, mereka mulai terbiasa dengan inokulasi. Kemudian pengetahuannya disebarkan pula ke tanah jajahannya, tepatnya ke Batavia, terutama, melalui Bataviaasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen atau Perhimpunan Batavia untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan yang didirikan pada 24 April  1778, tiga dasawarsa setelah inokulasi pertama di Belanda.

Ihwal inokulasi di Batavia itu memang sudah ada beberapa orang yang menulisnya. Misalnya, saya membacanya dari Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie, jilid keempat (1921), Nusa Jawa Silang Budaya (Bagian I) (2008) karya Denys Lombard yang diulangi Mumuh Muhsin Z dalam makalahnya, “Bibliografi Sejarah Kesehatan pada Masa Pemerintahan Hindia Belanda” (dalam Paramita Vol. 22 No. 2, Juni 2012). Namun, setelah melakukan pencarian pustaka, saya mendapati tesis Valentine Delrue, Corrupter of Bodies? An analysis of the Verhandelingen of the Batavian Society of Arts and Sciences (1778-1794) on managing the health of the citizens of Batavia (2019), terbilang lengkap membahas ihwal tersebut.

Dari Lombard, Mumuh, dan Delrue ada nama Willem van Hogendorp (1735-1784) sebagai orang yang mula-mula mengampanyekan pentingnya praktik inokulasi di tengah-tengah masyarakat Eropa di Batavia. Hogendorp adalah penulis, petinggi VOC, residen Rembang, dan salah seorang pendiri Perhimpunan Batavia. Riwayat hidup serta sepak terjangnya secara sekilas dapat kita simak dari tulisan “Eerste dagen van het Bataviaasch genootschap” (dalam Verzameld Werk. Deel 7, 1959) karya E. du Perron, “Literary Approaches to Slavery and the Indies Enlightenment: van Hogendorp's Kraspoekol” (dalam Indonesia, No. 43, April 1987) karya Ann Kumar, “Drie averechts: de Van Hogendorps in Oost-Indië” (dalam Indische Letteren. Jaargang 3, 1988) karya F.M. Timmer, dan “Cerita dari Timur: Genre dan tema dalam Sastra Hindia-Belanda dari masa VOC” (dalam Wacana, Vol. 10. No 2. Oktober 2008) oleh Christina Suprihatin.

Dari pelbagai sumber tersebut, kita jadi tahu, meski hanya sepuluh tahun masa tinggalnya di Hindia Belanda (1774-1784), Hogendorp berada pada masa-masa “Pencerahan Batavia” yang berkaitan dengan kesejahteraan, kemajuan, pengolahan seni dan ilmu pengetahuan sedang mulai tumbuh dan disebarkan melalui publikasi ilmiah dari Perhimpunan Batavia, Verhandelingen van Het Bataviaasch Genootschap, der Konsten en Weetenschappen (VBG).

Di antara gagasan baru yang diangkat dalam VBG adalah upaya memberantas cacar di Batavia yang telah berkecamuk sejak lama, dengan cara inokulasi. Dalam hal ini, sebagaimana yang saya baca dari uraian Delrue (2019), Hogendorp bisa dikatakan sebagai perintisnya di tanah Hindia. Sebelum penerbitan VBG pun, ia bahkan sudah menulis novelet yang berkaitan dengan inokulasi. Judulnya, Sophronisba of de gelukkige moeder, door de inentinge van haare dochters (1779) atau Sofronisba, ibu yang berbahagia karena telah menginokulasi anak-anak perempuannya.

Halaman:

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Terkini

Apa Salahnya Melepas Burung?

Rabu, 10 Februari 2021 | 14:44 WIB

Refreshing Course ala PP Mambaul Ulum Waru

Senin, 28 Desember 2020 | 14:58 WIB

Ini Alasan Orang Keluar dari Grup WhatsApp

Minggu, 27 Desember 2020 | 08:22 WIB

Dokter Waszklewicz dan Sistem Sirkuler Cacar

Kamis, 24 Desember 2020 | 17:30 WIB

Mantri Cacar dan Dokter Jawa

Rabu, 16 Desember 2020 | 11:44 WIB

Pesona Matahari Terbit di Gunung Bromo

Senin, 14 Desember 2020 | 11:22 WIB

Dokter Bowier dan Tabung Termometris

Selasa, 8 Desember 2020 | 12:25 WIB

Radio Di Masa Corona dan ‘Revolusi’ Program

Sabtu, 5 Desember 2020 | 09:23 WIB

Pandemi, SDN Mulyodadi Bikin Buku Antologi Puisi

Kamis, 3 Desember 2020 | 14:24 WIB

Inokulasi Cacar dan Perhimpunan Batavia

Rabu, 2 Desember 2020 | 14:49 WIB

Memahami Sistem Koloid dengan Ular Tangga

Kamis, 26 November 2020 | 10:27 WIB

Gauffre Membawa Vaksin Cacar ke Jawa

Selasa, 24 November 2020 | 13:57 WIB

Mengoptimalkan Gadget untuk Pembelajaran Olahraga Siswa

Selasa, 24 November 2020 | 10:02 WIB

Kelola Emosi Marah Siswa dengan Expressive Writing

Sabtu, 21 November 2020 | 17:19 WIB

Menelusuri Legenda Sarip Tambak Oso

Sabtu, 14 November 2020 | 15:08 WIB

Sejarah Gunung Sunda

Jumat, 13 November 2020 | 10:18 WIB

Buket Buah, Cara Warga Tambaksumur Rayakan Maulid Nabi

Selasa, 10 November 2020 | 13:33 WIB
X