Pandemi, SDN Mulyodadi Bikin Buku Antologi Puisi

- Kamis, 3 Desember 2020 | 14:24 WIB
Warga SDN Mulyodadi Wonoayu Sidoarjo bangga dengan buku antologi puisinya. (Insiyah)
Warga SDN Mulyodadi Wonoayu Sidoarjo bangga dengan buku antologi puisinya. (Insiyah)

Ikatlah ilmu dengan tulisan, seorang pembelajar tak akan berhenti membaca. Membaca adalah pekerjaan yang sangat mudah namun susah untuk dikerjakan. Kebiasaanlah yang akan mempermudah kegiatan membaca, dengan membaca akan tahu banyak hal.

Pandemi, bukan berarti pupus semua kreatifitas dan inovasi. Pandemi justru harus jadi motivasi untuk berkarya lebih baik. Seperti yang dilakukan warga SDN Mulyodadi Wonoayu Sidoarjo, selama pandemi malah menghasilkan satu karya yakni buku kumpulan puisi.

Pada 17 Maret 2020 menandai awal lockdown dari semua kegiatan yang bersifat kerumunan massa. Sekolah, bekerja bahkan beribadah semua di rumah semua karena pandemic covid 19 melanda dunia, Indonesia tak luput dari sentuhan virus yang merebak.

AYO BACA : Heboh Video Buaya Makan Orang di Bojonegoro, Begini Kata Kades Setempat

Dua minggu pertama lockdown mereka masih merasa bahagia seakan libur panjang. Menginjak minggu ketiga kebosanan melanda timbullah kangen, guru kangen mengajar, mendidik siswanya, celoteh lucunya; siswa kangen dengan gurunya, nasehatnya, berbagi pengetahuan, diskusi. Sekolah mulai sepi sunyi senyap. Ditempat lain juga demikian adanya, sunyi senyap bagai tiada kehidupan. Betapa hebat covid 19 menyayat hati, merampas kebebasan semua orang.

April 2020 momentum awal melangkah meninggalkan kesunyian dengan tetap belajar dan berkarya, sebuah ide untuk mengabadikan masa pandemi dalam sebuah tulisan. “Buku karya antologi puisi berjudul Bumi Merefresh Diri terbentuk dari kerinduan, kegalauan, kesedihan bahkan kemarahan yang merayap di relung hati setiap guru,orang tua, komite bahkan seluruh siswa SDN Mulyodadi, dan kami yakin semuanya merasakan hal yang sama,” ujar Insiyah, S.Pd., kepala SDN Mulyodadi Wonoayu Sidoarjo.

Berbekal dari perasaan yang sama tercetuslah ide menulis kumpulan puisi tentang peristiwa yang terjadi. “Sebagai penanda bahwa kita pernah hidup di jaman seperti ini atau bisa disebut historiografis. Karya mereka akan selalu terkenang dan abadi,” kata Insiyah.

AYO BACA : Partai Pendukung Eri-Armuji Solid, Machfud-Arifin Hanya Punya 1 Cara untuk Menang

Selama enam bulan karya dari seluruh guru, duta baca, komite bahkan paguyuban dari SDN Mulyodadi terbentuk, dengan dukungan dari kepala desa Mulyodadi, ketua Korwil Wonoayu, ketua K3S dan ketua komite semua terlaksana dengan baik.

Halaman:

Editor: Rizma Riyandi

Tags

Terkini

Apa Salahnya Melepas Burung?

Rabu, 10 Februari 2021 | 14:44 WIB

Refreshing Course ala PP Mambaul Ulum Waru

Senin, 28 Desember 2020 | 14:58 WIB

Ini Alasan Orang Keluar dari Grup WhatsApp

Minggu, 27 Desember 2020 | 08:22 WIB

Dokter Waszklewicz dan Sistem Sirkuler Cacar

Kamis, 24 Desember 2020 | 17:30 WIB

Mantri Cacar dan Dokter Jawa

Rabu, 16 Desember 2020 | 11:44 WIB

Pesona Matahari Terbit di Gunung Bromo

Senin, 14 Desember 2020 | 11:22 WIB

Dokter Bowier dan Tabung Termometris

Selasa, 8 Desember 2020 | 12:25 WIB

Radio Di Masa Corona dan ‘Revolusi’ Program

Sabtu, 5 Desember 2020 | 09:23 WIB

Pandemi, SDN Mulyodadi Bikin Buku Antologi Puisi

Kamis, 3 Desember 2020 | 14:24 WIB

Inokulasi Cacar dan Perhimpunan Batavia

Rabu, 2 Desember 2020 | 14:49 WIB

Memahami Sistem Koloid dengan Ular Tangga

Kamis, 26 November 2020 | 10:27 WIB

Gauffre Membawa Vaksin Cacar ke Jawa

Selasa, 24 November 2020 | 13:57 WIB

Mengoptimalkan Gadget untuk Pembelajaran Olahraga Siswa

Selasa, 24 November 2020 | 10:02 WIB

Kelola Emosi Marah Siswa dengan Expressive Writing

Sabtu, 21 November 2020 | 17:19 WIB

Menelusuri Legenda Sarip Tambak Oso

Sabtu, 14 November 2020 | 15:08 WIB

Sejarah Gunung Sunda

Jumat, 13 November 2020 | 10:18 WIB

Buket Buah, Cara Warga Tambaksumur Rayakan Maulid Nabi

Selasa, 10 November 2020 | 13:33 WIB
X