Radio Di Masa Corona dan ‘Revolusi’ Program

- Sabtu, 5 Desember 2020 | 09:23 WIB
Ilustrasi siaran radio.(Dok Indriyo Margono)
Ilustrasi siaran radio.(Dok Indriyo Margono)

AYOSURABAYA.COM--Akhir Oktober para pendengar radio dihebohkan dengan cuitan ekonom Rizal Ramli yang memposting screenshot status salah satu executive producer radio network terkemuka. Dalam cuitan tersebut Rizal Ramli ikut prihatin atas efisiensi besar-besaran radio berjaringan tersebut, yang disebabkan oleh defisit imbas pandemi Covid19 yang berkepanjangan. Penulis, yang berada di ‘dalam,’ merasakan bagaimana perjuangan selama pandemi Covid19, dimana iklan, terutama di jaringan daerah sangat sulit didapatkan, sehingga jangankan untuk menghidupi karyawan, untuk operasional listrik dan air pun harus tambal sulam, sampai akhirnya manajemen memutuskan untuk melakukan efisiensi. 

Ternyata, radio network yang dihebohkan karena efisiensinya tersebut tidaklah sendiri. Saat membantu  recording podcast untuk tugas sejumlah mahasiswa di Bandung, penulis berkesempatan berkomunikasi dengan sejumlah sesepuh radio. Disela-sela obrolan soal podcast, kami sempat saling berkabar soal kondisi radio di Bandung.  Hampir sama dengan radio network tempat saya bernaung sebelumnya, kondisi pandemi saat ini menyebabkan sejumlah radio harus berjibaku mengatur cash flow mereka. Beberapa radio juga, ikut mengurangi jumlah personilnya. Malah ada radio yang justru menawarkan jam siar untuk siapapun yang ingin mengisi dengan syarat membeli jam siar pada waktu tertentu yang disepakati. Beruntung sampai saat ini, masih belum terdengar radio yang terpaksa harus berhenti bersiaran.

Bukan Cuma Karena Corona

Menilik setahun ke belakang, sesaat sebelum Corona mewabah, sebetulnya radio sudah berada di ambang masa sulit. Teknologi dan media sosial menjadi  salah satu penyebab beralihnya pendengar radio. Betapa tidak, Ketika dulu orang ingin mendengar lagu favoritnya harus request di radio, saat ini dengan perkembangan teknologi, penggemar musik tidak perlu harus meminta lagu ke radio atau membeli kasetnya, mereka bisa langsung klik di sejumlah platform music digital, atau menikmati video klipnya melalui channel Youtube. Begitu pula bila ingin mendengarkan wawancara dengan bahasan tertentu, pendengar sudah bisa menyimak kapanpun melalui podcast yang mulai bertebaran di dunia maya pada saat ini.

Tidak cukup sampai di situ, pendengar yang dulu menjadi ‘selebritas radio’ karena sering muncul di udara saat namanya disebut dalam berbagai program, saat tergantikan posisinya dengan selebgram yang tentu saja ketenarannya lebih luas ketimbang ‘selebritas radio.’ Ya, medsos mejadi salah satu yang ikut menggerus popularitas radio, karena informasi apapun bisa lebih cepat diakses. Meski demikian, medsos pun menjadi lada utama hoax karena siapapun bisa memberikan informasi tanpa filter, kecuali pribadi si pemosting info tersebut.

Revolusi Program

Perbaikan program menjadi salah satu kunci mengembalikan radio di hati pendengarnya. Suka atau tidak suka, saat ini masyarakat lebih mengandalkan medis sosial ketimbang radio, saat membutuhkan informasi apapun. Tentu ini menjadi tantangan, bagaimana radio bisa Kembali mengambil peran yang dibutuhkan masyarakat.

Penataan program yang utama adalah mengembalikan marwah radio sebagai teman, sebagai sahabat. Artinya, sebagai teman radio harus tahu apa yang dibutuhkan pendengarnya. Informasi dengan proximity yang sesuai dengan positioning dan segmen radio tersebutlah yang harus berulang kali diingatkan pada crew radio sebagai bahan materi program untuk disiarkan. Ini penulis garis bawahi, karena saat ini sejumlah radio sudah tidak menjadikan hal tersbut sebagai pijakan. Informasi yang bagus sekalipun, bila tidak  memperhitungkan proximity tadi, tentu tidak akan memberikan efek pada pendengarnya.

Tidak perlu jauh-jauh, di masa pandemi Covid19 ini misalnya, apa sih yang menjadi kesulitan terbesar masyarakat pendengar? Bila sudah didapat jawabannya, maka hadirkanlah ‘ruang’ itu di dalam program siarannya.  Dengan cara ini, setidaknya program program  tersebut dapat mengembalikan dulu pendengar, karena mereka merasa menemukan apa yang dicari selama ini.

Halaman:

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Terkini

Apa Salahnya Melepas Burung?

Rabu, 10 Februari 2021 | 14:44 WIB

Refreshing Course ala PP Mambaul Ulum Waru

Senin, 28 Desember 2020 | 14:58 WIB

Ini Alasan Orang Keluar dari Grup WhatsApp

Minggu, 27 Desember 2020 | 08:22 WIB

Dokter Waszklewicz dan Sistem Sirkuler Cacar

Kamis, 24 Desember 2020 | 17:30 WIB

Mantri Cacar dan Dokter Jawa

Rabu, 16 Desember 2020 | 11:44 WIB

Pesona Matahari Terbit di Gunung Bromo

Senin, 14 Desember 2020 | 11:22 WIB

Dokter Bowier dan Tabung Termometris

Selasa, 8 Desember 2020 | 12:25 WIB

Radio Di Masa Corona dan ‘Revolusi’ Program

Sabtu, 5 Desember 2020 | 09:23 WIB

Pandemi, SDN Mulyodadi Bikin Buku Antologi Puisi

Kamis, 3 Desember 2020 | 14:24 WIB

Inokulasi Cacar dan Perhimpunan Batavia

Rabu, 2 Desember 2020 | 14:49 WIB

Memahami Sistem Koloid dengan Ular Tangga

Kamis, 26 November 2020 | 10:27 WIB

Gauffre Membawa Vaksin Cacar ke Jawa

Selasa, 24 November 2020 | 13:57 WIB

Mengoptimalkan Gadget untuk Pembelajaran Olahraga Siswa

Selasa, 24 November 2020 | 10:02 WIB

Kelola Emosi Marah Siswa dengan Expressive Writing

Sabtu, 21 November 2020 | 17:19 WIB

Menelusuri Legenda Sarip Tambak Oso

Sabtu, 14 November 2020 | 15:08 WIB

Sejarah Gunung Sunda

Jumat, 13 November 2020 | 10:18 WIB

Buket Buah, Cara Warga Tambaksumur Rayakan Maulid Nabi

Selasa, 10 November 2020 | 13:33 WIB
X