Bom di Makassar Memantik Kenangan Buruk para Pewarta di Kota Surabaya

- Minggu, 28 Maret 2021 | 14:39 WIB
Presiden Joko Widodo dan Kapolri Tito Karnavian saat mengecek Gereja Pantekosta Pusat Surabaya hanya rusak diguncang bom bunuh diri, 13 Mei 2018.
Presiden Joko Widodo dan Kapolri Tito Karnavian saat mengecek Gereja Pantekosta Pusat Surabaya hanya rusak diguncang bom bunuh diri, 13 Mei 2018.

GAYUNGAN, AYOSURABAYA.COM -- Insiden ledakan bom bunuh diri kembali mengguncang Indonesia. Minggu (28/3/2021) pagi. Sebuah bom bunuh diri meledak di gerbang Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan.

Aksi bom bunuh diri ini menuai kecaman dari sejumlah elemem masyarakat. Termasuk para pewarta dari Kota Surabaya.

Kenangan Buruk

Sejumlah wartawan yang sempat mengalami kejadian serupa, yakni meliput bom di 3 gereja pada Minggu (13/5/2018) dan Polrestabes Surabaya pada Senin (14/3/2021) mengecam kejadian itu. Mereka menceritakan kisah tentang pengalamannya meliput kejadian pascaledakan tersebut.

Salah satunya adalah Dadang Kurnia.

Jurnalis Republika itu mengaku takut akan terjadinya bom susulan. Mengingat, ledakan bom berlangsung selama 3 kali dalam sehari di lokasi yang berbeda. Setelah kejadian itu, ia mengaku merasa paranoid satu sama lain. Terutama dengan orang asing yang berada di sekitarnya.

"Apalagi waktu itu beruntun, yang paling enggak enak saling curiga satu sama lain. Misalnya, ada orang bawa tas ransel besar, tu takut. Apalagi diidentikan dengan pakaian-pakaian tertentu, jadi parno," kata pria yang akrab disapa Odong itu, Minggu (28/3/2021).

Dadang menjelaskan, tragedi yang berlangsung beberapa hari menjelang puasa ramadan kala itu mengacaukan jadwal liputannya. Mau tak mau, suka tak suka, seluruh jurnalis, termasuk Dadang, harus berjibaku dengan risiko besar dalan meliput tragedi mencekam tersebut.

AYO BACA : Saksi Mata Duga Pelaku Bom Bunuh Diri Makassar Seorang Wanita

Halaman:

Editor: Andres Fatubun

Tags

Terkini

X