Bom di Makassar Memantik Kenangan Buruk para Pewarta di Kota Surabaya

- Minggu, 28 Maret 2021 | 14:39 WIB
Presiden Joko Widodo dan Kapolri Tito Karnavian saat mengecek Gereja Pantekosta Pusat Surabaya hanya rusak diguncang bom bunuh diri, 13 Mei 2018.
Presiden Joko Widodo dan Kapolri Tito Karnavian saat mengecek Gereja Pantekosta Pusat Surabaya hanya rusak diguncang bom bunuh diri, 13 Mei 2018.

"Apalagi kejadiannya waktu itu kan beberapa hari menjelang puasa, pas lagi ramai-ramainya ramadan. Jadi bulan puasa yang harusnya disambut meriah oleh umat Islam jadi sepi, karena banyak yang takut, termasuk para wartawan di Surabaya," katanya.

Usai kejadian itu, pergerakan Dadang dalam meliput sejumlah kegiatan di sejumlah lokasi terbatas. Misalnya saat masuk ke mal, penjagaan super ketat dilakukan pemilik atau pengelola mal. Menurutnya, hal itu cukup menghambatnya dalam melakukan aktivitas jurnalisnya.

"Aktivitas jelas terganggu, apalagi setiap tempat yang dikunjungi meningkatkan SOP (Standar Operasional Prosedur) pengamanan. Misalnya, bawa tas itu di cek sampe ke dalam-dalamnya. Padahal, kan ada barang-barang privasi yang seharusnya tidak boleh cek. Tapi ya mau bagaimana lagi, pasrah aja," lanjutnya. 

Ia berharap, masyarakat lebih tenang dalam melakukan aktivitas sehari-hari bilamana mengalami hal serupa. Pun dengan kejadian saat ini yang mengingatkannya dengan insiden buruk kala itu. Selain menimbulkan korban, ia mengaku lelah lantaran harus melakukan peliputan nonstop tanpa memperhatikan rutinitasnya.

"Semoga jangan sampai ada lagi lah," kata pria asal Ciamis, Jawa Barat itu.

Mencekam

Senada, jurnalis Radar Surabaya, Muhammad Makhrus mengecam kejadian serupa. Menurutnya, seluruh aktivitasnya terganggu lantaran harus meliput kejadian usai bom meledak. Mulai dari pengamanan terduga teroris oleh Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror di beberapa lokasi, evakuasi korban, hingga terbatasnya akses ke sejumlah tempat publik.

"Capek, kurang tidur, telat makan juga, pagi sampai malem nonstop. Hari kedua sempat ke rumah salah satu pelaku, dilakukan penggeledahan oleh Densus 88, dulu pak presiden langsung datang ke TKP, capek banget pokoknya," ujar pria berusia 26 tahun asal Tuban itu.

AYO BACA : Bom Gereja Katedral Makassar, 1 Tewas

Meski tak mengalami paranoid seperti yang dialami Dadang, namun ia cukup miris melihat ambulans berseliweran setiap jammnya. Makhrus berempati dengan para keluarga korban. 

Halaman:

Editor: Andres Fatubun

Tags

Terkini

X